"Kalau cost margin saya enggak punya pandangan yang sama kalau cost plus margin konsep sudah usang enggak mendorong masing-masing pihak melakukan kegiatan berusaha efisien," ungkap Jonan dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (28/9/2017).
PLN sebelumnya menginginkan ada harga khusus untuk penjualan batu bara di dalam negeri, bukan harga pasar. Tujuannya agar bisa menunjang tarif listrik yang lebih murah seiring dengan peningkatan kebutuhan batu bara oleh PLN. Jonan masih akan mengkaji mekanisme yang paling tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau anda tanya saya dari segi PLN yang pertama PLN harus berusaha menyelesaikan efisiensi kegiatan termasuk maintenance. Jaringan transmisi distribusi ini bisa enggak diefisienkan," paparnya.
Selanjutnya, Jonan menginginkan agar PLN evaluasi harga energi primer yang digunakan. Sehingga mampu menyediakan listrik dengan tarif lebih murah. "Kita akan review energi primer cari fairness-nya baiknya bagaimana," sebut Jonan.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2017-2026 yang dikeluarkan PLN, disebutkan, batu bara memainkan peranan besar dalam komponen energi primer PLN. Porsi batu bara mencapai 50,4% dari keseluruhan komponen energi primer. Lalu diikuti oleh LNG (19,1%), air (10,8%), gas (10%), panas bumi (8%), dan BBM (0,5%).
Sementara dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) PLN di 2017, struktur biaya bahan bakar terbesar PLN 2017 adalah gas dengan nilai Rp 56,47 triliun, diikuti batu bara Rp 38,03 triliun, lalu BBM Rp 21,85 triliun, panas bumi Rp 3,18 triliun, dan air Rp 0,51 triliun.
"Bauran energi PLN, BBM masih 6%. Harapan saya BBM jangan 6% COD makin lama makin besar BBM tetap segini secara persentase berkurang karena penambahan COD sebaiknya BBM harus dikurangi pindah ke gas kah atau pindah hybrid kah atau apa," pungkasnya. (mkj/mkj)











































