Bangun Banyak Pembangkit, Jokowi: Biar Anak-anak Belajar Malam Hari

Bangun Banyak Pembangkit, Jokowi: Biar Anak-anak Belajar Malam Hari

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 05 Okt 2017 18:55 WIB
Bangun Banyak Pembangkit, Jokowi: Biar Anak-anak Belajar Malam Hari
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) IPP Banten berkapasitas 660 Megawatt (MW) serta groundbreaking PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9, dan PLTU Jawa 10 di kawasan Serang, Banten.

Jokowi mengatakan, pembangunan PLTU IPP Banten berkapasitas 660 MW yang telah diresmikan dapat mengaliri listrik ke 2 juta sambungan rumah tangga. Kemudian bila pembangunan PLTU lainnya juga telah selesai, maka jumlah rumah yang akan tersambung listrik akan semakin banyak.

"Listrik ini disampaikan Pak Menteri ESDM (Ignasius Jonan) bisa mengaliri 2 juta rumah tangga. Nanti kalau yang lain selesai, bisa 4,6 juta rumah tangga dialiri listrik," kata Jokowi dalam peresmian tersebut di Serang, Banten, Kamis (5/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Jokowi mengatakan, listrik memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Salah satunya, kata Jokowi, adalah untuk kegiatan belajar anak-anak di malam hari.

"Biar anak kita bisa belajar malam hari dan bisa dipakai juga untuk investasi hotel, pabrik-pabrik yang butuh listrik. Tapi yang paling penting, malam hari anak-anak bisa belajar," kata Jokowi.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini masih banyak anak-anak, terutama di daerah pelosok yang kesulitan untuk belajar di malam hari. Belum semua dari mereka sudah mendapatkan pasokan listrik selama 24 jam penuh.

Oleh sebab itu dirinya meminta kepada kementerian ESDM serta PT PLN (Persero) untuk dapat terus berupaya melistriki berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. Tak hanya itu, dirinya juga meminta agar tarif listrik bisa terus terjangkau oleh masyarakat.

"Karena masih banyak, terutama saudara-saudara kita yang belum dialiri listrik dan saya sudah perintahkan Kementerian ESDM untuk di prioritaskan. Saya juga titip, ini masalah efisiensi, agar semua biaya-biaya itu dicek betul secara detil baik yang harga batubara, baik yang biaya transportasi angkut batubara, jangan dibolak-balik sehingga ongkos transportasinya jadi tinggi terus enggak jadi efisien. Bebannya nanti yang tanggung masyarakat," tuturnya. (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads