Seperti diketahui, teknologi baterai menjadi salah tantangan yang dihadapi dalam pengembangan mobil listrik.
"Kami sekarang sedang kembangkan studi yang berkaitan dengan kepentingan kami, misalnya baterai mobil listrik dengan ESDM. Sekarang pengembangan kami lakukan dengan mengumpulkan anak-anak Indonesia untuk bekerja bersama, dimasukkan ke tim BPPT dan ITB," kata Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan, dalam acara Coffee Morning di kantornya, Jakarta, Selasa (17/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kami bahannya itu banyak, kami enggak mau ekspor ke luar, kami biarlah memproduksi itu. Kerja sama dengan siapa? Ada yang sedang kami lihat dengan Tesla sendiri. Itu yang jadi kunci. Lalu Korsel dan China," tutur Luhut.
Pengembangan teknologi baterai ini, kata Luhut, penting untuk mendukung produksi mobil listrik dalam negeri ke depan. Dia ingin pada waktunya nanti, Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan malah menjadi pasar teknologi tingkat tinggi.
"China ini tahun 2020 akan mengontrol 40% produksi dunia. Jadi kami jangan ngurus-ngurusi China saja. Teknologi China itu sangat menguasai. 5G bukan lagi AS yang kontrol, tapi China. Jadi kami jangan sampai jadi market high technology dari luar," tukasnya. (eds/wdl)











































