Follow detikFinance
Rabu 18 Oct 2017, 17:14 WIB

Pertamina Gandeng Petani Riau Olah Lahan Bekas Kebakaran Hutan

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Pertamina Gandeng Petani Riau Olah Lahan Bekas Kebakaran Hutan Foto: Dok. PT Pertamina (Persero)
Jakarta - Di balik bencana kebakaran lahan dan hutan ada hikmah terselubung bagi mereka yang merasakan duka. Hal ini dirasakan masyarakat Sei Pakning di Provinsi Riau, yang pernah dilanda musibah kebakaran yang membumihanguskan lahan seluas enam hektar di wilayahnya.

Pada tahun 2012 si 'jago merah' tanpa ampun melalap lahan gambut, dan itu terjadi hampir setiap tahun. Masyarakat hampir setiap hari berlari bolak-balik mencari air atau benda yang dapat memadamkan kobaran api tidak jauh dari kediamannya.

Kini, kisah itu tak terjadi lagi. Sejak dua tahun lalu duka itu berakhir. Berkat upaya bahu membahu Pemerintah, masyarakat dan Pertamina RU II Production Sei Pakning, musibah itu dapat teratasi dengan hadirnya Program Mitigasi Karlahut (Kebakaran Lahan dan Hutan) Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi.

Mulai 2015, melalui program tersebut masyarakat didampingi Pemerintah dan Pertamina RU II Production Sei Pakning mendorong upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan di wilayah Bukit Batu melalui alih fungsi lahan.

Bekerja sama dengan LPPM Universitas Sebelas Maret, Pertamina Production Sei Pakning melakukan pendampingan bagi kelompok tani melalui pemberdayaan masyarakat, dengan mengalihfungsi lahan semak belukar yang merupakan bekas area kebakaran lahan, menjadi pertanian nanas gambut dan melakukan diversifikasi produk olahan nanas.

GM Pertamina RU II Production, Otto Gerentaka, mengatakan sejak Program Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi ini dilakukan, tahun 2017 tercatat telah terjadi peningkatan lahan pertanian nanas seluas 4,5% dengan potensi pendapatan kelompok mencapai Rp 20juta/ bulan dari penjualan hasil pertanian dan produk olahan nanas.

Sebelumnya, dari lahan tiga Hektar dengan tiga orang Petani dan 10 orang Petani Penggarap, hasil panen mencapai 10.000 buah/Hektar dengan kualitas Grade A-B (85%) dan C (15%), dengan total pendapatan kelompok dari penjualan mencapai Rp 17 Juta /panen.

"Hingga saat ini, upaya budidaya tanaman produktif cukup menjanjikan dan tahun yang akan datang diproyeksikan luasnya menjadi 15 hektar. Pertamina berharap muncul Sentra Pertanian Nanas Gambut yang dapat menjadi ciri khas di wilayah Sungai Pakning," kata Otto dalam keterangan tertulis dari Pertamina, Rabu (18/10/2017).

Samsul, Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur yang menjadi mitra binaan Pertamina membenarkan fakta itu. Ia mengakui sejak program ini diinisiasi, masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk alih fungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena ada nilai tambah yang didapatkan cukup besar.

Kelompok Tani Tunas Makmur yang dipimpinnya beranggotakan 27 Orang. Kelompok laki-laki sehari-hari menjalankan kegiatan Pertanian, sementara kelompok perempuan memproduksi produk nanas olahan. Produk unggulan kelompok tani mereka adalah Keripik Nanas Gambut dan Manisan Nanas.

Di awal alih fungsi lahan tahun 2015, masyarakat termasuk Kelompok Tani Tunas Makmur melakukan kegiatan pengelolaan lahan dengan memanfaatkan lahan yang bersifat kritis menjadi bernilai produktif. Di mulai dengan pengelolaan lahan perkebunan cabai dan pisang di daerah Batang Duku seluas 2 hektar.

Selanjutnya pengelolaan kebun nanas di Desa Kampung Jawa berkisar 8 hektar.

"Kami bersyukur bencana yang dulu menyimpan duka, kini menjadi harapan kesejahteraan untuk masa depan kampung Sei Pakning,"tutur Samsul. (hns/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed