Kenalkan Energi Terbarukan, ESDM Gandeng Mahasiswa Pecinta Alam

Kenalkan Energi Terbarukan, ESDM Gandeng Mahasiswa Pecinta Alam

Niken Widya Yunita - detikFinance
Sabtu, 28 Okt 2017 12:20 WIB
Kenalkan Energi Terbarukan, ESDM Gandeng Mahasiswa Pecinta Alam
Foto: ESDM Gandeng Mapala (Dok. Ditjen EBTKE Kementerian ESDM)
Depok - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memandang mahasiswa merupakan mitra strategis untuk mengenalkan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Untuk itu ESDM menggandeng Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) se-Indonesia.

Dalam keterangan tertulis dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM, Sabtu (28/10/2017), Kepala Bagian Rencana dan Laporan Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM, Qatro Romandhi, mengatakan mahasiswa dinilai sebagai mitra penting dalam pengembangan EBT. Qatro menekankan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai target bauran EBT yang telah ditetapkan 23% pada 2025.

"Untuk itu dibutuhkan peran semua pihak, dalam mendorong inovasi teknologi dan pemanfaatan EBT," ujar Qatro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Qatro mengatakan itu dalam acara 'Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pecinta Alam Tingkat Perguruan Tinggi se-Indonesia ke-29' di Depok, Jawa Barat, Kamis (26/10/2017). Acara tersebut juga dihadiri Kepala Subbag Informasi Hukum Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Bambang Wijiatmoko mewakili Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana.

Dalam pemaparannya, Qatro menjelaskan mengenai pentingnya pengembangan EBT sebagai energi masa depan Indonesia. EBT berhubungan dengan energi non-fosil dan bersifat terbarukan sehingga ramah lingkungan.

Qatro menyampaikan, progam Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) untuk menerangi desa-desa yang belum berlistrik, utamanya desa yang masih gelap-gulita. Progam yang digagas Menteri ESDM Ignasius Jonan ini menargetkan menerangi 293 ribu rumah di 2.500 desa yang masih gelap gulita.

"Ini untuk menjangkau daerah yang tidak terjangkau PLN," kata Qatro.

Tak hanya itu saja, Qatro juga menyampaikan keunggulan EBT dibandingkan dengan menggunakan energi fosil. Selain ikut berkontribusi mencapai target rasio elektrifikasi sebesar 97% pada 2025, EBT juga akan memberikan kontribusi yakni 314 juta ton CO2 dalam program penurunan gas rumah kaca.

Dalam kesempatan itu, ratusan mahasiswa pecinta alam yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia antusias mengikuti paparan yang disampaikan. Salah satu mahasiswa bernama Bobby, mengkritisi mengenai isu lingkungan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden, Jawa Tengah.

Menanggapi hal itu, Bambang menyatakan kekhawatiran mengenai rusaknya lingkungan akan minim. Sebab, PLTP dalam pengoperasiannya akan membutuhkan air sehingga pengembang akan segera melakukan reboisasi kawasan hutan yang rusak saat proses pembangunan.

"Nantinya akan hijau, kalau tidak ada air tidak bisa beroperasi," ucap Bambang.

Apa yang disampaikan Bambang ini senada dengan yang disampaikan Rida Mulyana beberapa waktu lalu. "Setiap PLTP pasti memerlukan air. Tidak mungkin merusak hutan, karena begitu rusak, hilang airnya hilang," ujar Bambang.

Wilayah kerja panas bumi akan melindungi hutan yang ada di sekitarnya. Karena hutan tersebut merupakan tempat sumber air yang dipanaskan menjadi uap yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin.

(nwy/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads