Follow detikFinance
Jumat 10 Nov 2017, 15:11 WIB

Perkuat Ketahanan Energi, RI Gandeng International Energy Agency

Niken Widya Yunita - detikFinance
Perkuat Ketahanan Energi, RI Gandeng International Energy Agency Foto: Penandatanganan Joint Work Programme antara Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana dengan Executive Director IEA, Fatih Birol (Dok. Ditjen EBTKE Kementerian ESDM)
Paris - Indonesia berupaya memperkuat ketahanan energi. Untuk itu pemerintah Indonesia menggandeng International Energy Agency (IEA).

Dalam keterangan tertulis dari Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (10/11/2017), hal itu ditunjukkan melalui penandatanganan Joint Work Programme (JWP) antara ESDM dengan IEA. Penandatanganan itu berlangsung dalam pertemuan dua tahunan IEA Ministerial Meeting yang bertemakan Penguatan Ketahanan Energi untuk Pertumbuhan Global yang Berkelanjutan pada 7-8 November 2017 di Paris, Perancis.

Kerja sama ini melingkupi energy data and statistic, emergency policy and energy security, oil and gas market, power sector and renewable energy, energy efficiency, climate change and clean energy technology.

Pada penandatanganan JWP ini Menteri ESDM Ignasius Jonan diwakilkan oleh Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana. Sementara dari pihak IEA adalah Executive Director IEA, Fatih Birol.

"Kerja sama tersebut selain berkaitan dengan sharing data dan informasi, juga ditujukan untuk peningkatan capacity building pegawai di KESDM di bidang pengolahan dan analisis data energi dalam perumusan rekomendasi untuk pengambilan kebijakan," ungkap Rida yang sekaligus menjadi Head of Delegation (HoD) RI pada pertemuan ini.

Keikutsertaan Indonesia dalam pertemuan IEA Ministerial Meeting merupakan wujud komitmen Indonesia ikut berperan dalam upaya pengarusutamaan energi bersih dan peningkatan ketahanan energi dunia. Sebagai associated members, pertemuan ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menegaskan posisi Indonesia dalam mewujudkan upaya tersebut.

"Untuk mendorong pengembangan sektor EBT, Pemerintah Indonesia berupaya untuk menjadikan iklim investasi lebih kondusif dengan cara memperbaiki kebijakan terkait energi. Sejalan itu, Indonesia juga membutuhkan teknologi terkait yang inovatif dan mendukung ketahanan energi," ungkap Rida.

"Terkait hal tersebut, saat ini Pemerintah Indonesia sedang merevisi kebijakan terkait gross split, yang mendukung investasi hulu migas dan pemberian insentif pada saat eksplorasi," tambahnya.

Rida selaku HoD juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Pusat Data, Teknologi dan Informasi KESDM telah berkontribusi dalam penyusunan data statistik di bidang minyak bumi oleh IEA. Direktorat Jenderal Migas telah membuka layanan satu pintu yang menyediakan data dan informasi terkait minyak dan gas bumi di Indonesia. Ke depannya, akan tersedia data terkait ketenagalistrikan yang dapat diakses secara daring (online).

Di abad 21 ini, pemahaman terkait Ketahanan Energi telah didefinisikan secara lebih komprehensif. Isu-isu terkait ketahanan energi tidak hanya terkait ketersediaan energi, namun juga tersedianya akses energi secara adil bagi seluruh golongan masyarakat serta berkelanjutan. Seiring perkembangan sektor energi bersih, muncul berbagai kesempatan yang dirasa positif. Tentunya, muncul pula berbagai tantangan yang harus dihadapi.

"Arah kebijakan dan rencana umum pengembangan energi nasional Indonesia ke depannya adalah pengembangan sektor energi baru terbarukan. Seiring dengan itu, Pemerintah Indonesia akan melaksanakan pengurangan pemanfaatan minyak bumi, peningkatan pemanfaatan gas bumi, dan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di berbagai wilayah Nusantara, dengan target 35.000 MW," tegas Rida dihadapan delegasi negara lain.

  Perkuat Ketahanan Energi, RI Gandeng International Energy AgencyFoto: Pertemuan dua tahunan IEA Ministerial Meeting (Dok. Ditjen EBTKE Kementerian ESDM)


Indonesia menargetkan pengembangan EBT sebesar 23% pada bauran energi nasional tahun 2025. Pemerintah juga menargetkan penurunan intensitas energi sebesar 1% per tahun hingga 2025. Kedua target nasional tersebut diharapkan dapat mendukung proses transisi Indonesia dalam pengarusutamaan energi bersih dan peningkatan ketahanan energi nasional.

Menjadi anggota IEA telah memberikan berbagai keuntungan dan kesempatan bagi Indonesia untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai negara dan organisasi internasional lainnya. IEA telah memberikan dukungan dalam pengembangan data dan statistik terkait energi, terutama dalam hal manajemen dan transparansi.

Adapun hasil kerja sama yang telah dilaksanakan bersama IEA antara lain integrasi kebijakan, peraturan dan pasar ketenagalistrikan nasional, reformasi subsidi tenaga listrik, studi pengurangan emisi di pembangkit tenaga listrik, penyusunan Emergency Response Assessment Indonesia, Energy Effficiency Policies Review, penyusunan Handbook of Energy and Economy Statistics of Indonesia, serta ikut serta dalam Energy Efficiency Training/Workshop.

Ke depannya, IEA akan memainkan peranan penting seiring dengan perkembangan dunia dalam menjawab tantangan-tantangan global yang akan muncul. Ketahanan energi akan tetap menjadi fokus utama dari isu-isu tersebut. (nwy/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed