Pada penyelenggaraan ICEF ke-5 ini juga ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau kerja sama bidang energi dan sumber daya mineral sebagai landasan awal.
Jonan mengatakan kerja sama antara kedua negara di bidang energi dan sumber daya mineral kembali dilanjutkan setelah terhenti selama 7 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja sama di sektor energi dan sumber daya mineral yang akan digenjot kembali, antara lain hulu migas, infrastruktur ketenagalistrikan, batu bara, dan energi baru terbarukan (EBT). Pertemuan kali ini diikuti 96 perusahaan dari China dan 40 perusahaan Indonesia.
"Kali ini dibahas hulu migas, infrastruktur ketenagalistrikan, mineral dan batu bara dan renewable energy," kata Jonan.
Setelah penandatanganan kerja sama ini akan dilanjutkan pertemuan antara kedua belah pihak untuk membahas lebih lanjut proyek-proyek yang akan digarap.
"Kami berharap dalam diskusi working group dihasilkan sesuatu yang konkret dan nyata, tidak hanya diskusi-diskusi terlalu panjang. Jadi dikerjakan apa yang bisa dilakukan secepat-cepatnya," tutur Jonan.
Administrator National Energy Administration (NEA) China, Nur Bekri mengatakan, pihaknya bersedia memperluas kerja sama di Indonesia.
"Tiongkok (China) bersedia memperluas investasi dengan Indonesia pada masa mendatang," kata Bekri.
Adapun beberapa kerja sama yang sudah dilakukan Indonesia dengan RRT adalah:
a. Investasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi RRT di Indonesia.
Beberapa perusahaan RRT berinvestasi dan beroperasi di Indonesia di bidang minyak dan gas bumi dengan wilayah kerja Operasional Blok dan Non-Operasional Blok, yaitu:
- SINOPEC (KKKS Non-Operasional Blok)
- Petrochina (KKKS Operasional Blok)
- CNOOC (KKKS Operasional Blok dan Non-Operasional Blok)
b. Investasi Perusahaan RRT di Bidang Ketenagalistrikan.
Perusahaan-perusahaan RRT ikut berpartisipasi dalam investasi bidang ketenagalistrikan di Indonesia, baik itu dalam Proyek 35 GW maupun proyek ketenagalistrikan di luar proyek 35 GW.
- Investasi Ketenagalistrikan Perusahaan RRT dalam Proyek 35 GW. RRT ikut berinvestasi dalam proyek bidang ketenagalistrikan 35 GW, dalam 2 skema yaitu: EPC (Enginering, Procurement, and Construction) sebesar 3% dan IPP (Independent Power Producer) 36% dari total keseluruhan.
- Investasi Ketenagalistrikan Perusahaan RRT (bukan proyek 35 GW). RRT juga ikut berpartisipasi aktif dalam beberapa proyek di luar Proyek 35 GW, seperti: PLTU Banten I, PLTU Banten II, PLTU Banten III, PLTU I Jawa Barat, PLTU II Jawa Barat, PLTU I Jawa Tengah, dan beberapa PLTU besar lainnya di wilayah Indonesia.
c. Investasi di Bidang Hilir Minerba
- Alumunium Corporation of China Ltd. (Chinalco) bersama dengan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Inalum membangun Smelter Grade Alumina di Kabupaten Mempawah (SGA Mempawah), Kalimantan Barat. Smelter yang direncanakan memiliki kapasitas satu juta ton per tahun ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 1,5-1,8 miliar.
- Antam dan Inalum akan membentuk perusahaan patungan atau JV dengan Chinalco. JV ini akan mengoperasikan smelter, dengan pihak Indonesia memegang saham mayoritas, minimal 51%. PT Antam memiliki cadangan terbukti bauksit (bahan baku alumunium) sebanyak 100 juta ton ditambah potensi yang ada di area konsensi sekitar 200 juta ton. Cadangan bauksit Indonesia adalah terbesar ke-8 dunia sedangkan nilai ekspornya peringkat kedua terbesar.
- Kapasitas produksi PT Inalum sebesar 260 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 800 ribu ton. Pertumbuhan konsumsi alumunium mencapai 8% per tahun. Proyek SGA Mempawah tersebut ditargetkan rampung pada kuartal III-2019.











































