"Kondisi ini sangat menantang untuk ketahanan energi sebab permintaan energi terus naik seiring dengan pertumbuhan ekonomi," kata Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari dalam keterangan tertulis, Kamis (23/11/2017).
Ida mengatakan itu dalam workshop bertema 'Energy efficiency an abundant resource for Indonesia's industry'. Acara diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA) di Jakarta, Rabu (22/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Upaya konservasi energi perlu ditingkatkan untuk penghematan," jelasnya.
Menurut Ida keberhasilan industri dalam konservasi energi akan diterapkan oleh industri lain. Sebab, konservasi energi menghasilkan efisiensi dan penghematan, sehingga akan menguntungkan industri yang bersangkutan.
Sebagai informasi, Astra Group melakukan penghematan energi setara dengan Rp 408 miliar pada tahun 2017 ini. Angka ini naik 141,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 169 miliar.
"Kesuksesan ini bisa ditiru industri lain," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) Jon Respati mengatakan, hemat energi dan EBT merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
"Konservasi energi fosil seiring dengan EBT menjadi sumber daya energi bersih," tuturnya.
Di tempat yang sama, Melanie Slade dari IEA mengungkapkan, efisiensi energi akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan energi. Efisiensi, kata Melanie, bisa diterapkan oleh semua negara.
"Tidak masalah negara yang menjual atau membeli energi. Efisiensi energi bisa membantu semua kondisi," kata Melanie.
Melanie mengatakan, efisiensi energi akan membantu menahan peningkatan emisi yang menimbulkan polusi udara. Sebagaimana diketahui, polusi udara merupakan salah satu risiko terbesar bagi kesehatan. (/)











































