Follow detikFinance
Selasa 05 Dec 2017, 14:35 WIB

Begini Perjuangan Pertamina Pasok BBM 1 Harga ke Daerah Terpencil

Muhammad Idris - detikFinance
Begini Perjuangan Pertamina Pasok BBM 1 Harga ke Daerah Terpencil Ilustrasi/Foto: Mindra Purnomo/Infografis
Jakarta - PT Pertamina (Persero) berkomitmen mensukseskan program BBM Satu Harga di seluruh wilayah Indonesia. Akses yang sama atau setidaknya mendekati harga BBM di Pulau Jawa, dimaknai sebagai program pemerataan keadilan dari pemerintah. Eksekusi program itu di lapangan juga bukan hal mudah, mengingat infrastruktur belum memadai.

Direktur Pemasaran Pertamina, M Iskandar mengungkapkan, pihaknya menargetkan sebanyak 150 lokasi BBM Satu Harga dan terealisasi dalam waktu 3 tahun dari 2017 – 2019. Sebanyak 54 titik pada 2017, 50 titik pada 2018, dan 46 titik pada 2019.

Estimasi penyaluran BBM di daerah-daerah target program BBM Satu Harga akan mencapai sekitar 215 ribu kiloliter (KL) pada 2017, dan menjadi 580 ribu KL pada 2019. Hingga 5 Desember 2017, BBM Satu Harga telah menjangkau 32 titik. Sisanya diharapkan tuntas pada akhir tahun ini.

Dia mengungkapkan, Pertamina harus bersusah payah mengirimkan pasokan BBM ke beberapa lokasi Program BBM Satu Harga. Sebagai contoh untuk mendistribusikan BBM di Kecamatan Paloh, Kabupatan Sambas, Kalimantan Barat, Pertamina harus mengirim BBM dari Terminal BBM Pontianak yang berjarak 260 kilometer dengan waktu tempuh hingga delapan jam.

Baca juga: Strategi Pertamina Wujudkan BBM Satu Harga di RI

Medan pendistribusian masih berupa aspal kasar dan tanah, membuat perjalanan sulit ditempuh oleh truk tangki Pertamina dan berpotensi terperosok terutama dalam kondisi hujan. Tak hanya itu, truk tangki juga harus menyeberang sungai menggunakan kapal feri yang harus disewa khusus sehingga biaya angkut BBM per liter menjadi tinggi.

Satu kali perjalanan ke pedalaman Kalimantan itu, truk tangki dapat memuat 8.000 liter BBM. Di Papua pengiriman BBM dilakukan dengan moda transportasi udara dengan biaya kisaran Rp 5.000-Rp 30.000/liter.

"Namanya penugasan, kami tidak melihat biaya distribusi sebagai beban. Tetapi ini adalah amanat pemerintah yang harus kami realisasikan," kata Iskandar.

Sementara untuk penyaluran BBM ke pedalaman Papua, harus menggunakan pesawat udara khusus lantaran ketiadaan jalur darat ke kawasan pegunungan Papua.
Ini mengingat tingginya ongkos distribusi yang harus ditanggung guna mengirim BBM ke daerah terpencil. Namun begitu, perlu dilihat pula bahwa ketersediaan BBM yang terjangkau, secara tidak langsung bakal menggenjot geliat ekonomi di kawasan-kawasan tersebut.

Untuk seluruh kawasan, dalam setahun, Pertamina harus nombok sekitar Rp 800 miliar sampai Rp 1 triliun untuk mewujudkan Program BBM Satu Harga.

Untuk diketahui per 5 Desember 2017, terdapat 38 titik lembaga penyalur yang telah diresmikan beroperasi menjual BBM 1 harga di daerah 3T (Terpencil, Terluar, Tertinggal). 32 titik di antaranya sudah diresmikan dan ada sekitar 6 yang sudah uji coba operasi yang tersebar dari mulai dari:

1. Papua dan Papua Barat 12 titik
2. Kalimantan 6 titik
3. Jawa 2 titik
4. Sumatera 7 titik
5. Bali, Nusa Tenggara, Maluku 7 titik
6. Sulawesi 4 titik

Selanjutya saat ini sudah ada 1 lembaga penyalur yang sudah selesai pembangunannya di Papua (Bovendigul), dan ada 3 lembaga penyalur yang sudah mendekati tahap penyelesaian yakni 2 di Kalimantan (Bulungan & Sambas) dan 1 di Sulawesi (Wakatobi).

Selebihnya sebanyak 16 lembaga penyalur masih dalam tahap pembangunan dengan progress 50-70% yakni:

1. Sumatera 6 titik
2. Maluku 1 titik
3. Kalimantan 4 titik
4. Sulawesi 2 titik
5. Papua 3 titik

"Pertamina konsisten menjalankan amanah BBM Satu Harga tepat sasaran, yang perlu diimbangi dengan pengawasan dari pemerintah daerah dan BPH Migas," pungkas Iskandar. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed