Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 27 Des 2017 16:05 WIB

Apa Kabar Negosiasi Pemerintah dan Freeport Soal Divestasi Saham

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Proses divestasi saham PT Freeport Indonesia masih terus berjalan dan belum mendapatkan titik temu. Pemerintah Indonesia yang menginginkan untuk bisa menyerap saham Freeport sebesar 51%.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Bambang Gatot, menjelaskan hingga saat ini belum ada titik temu antara pemerintah dan Freeport tentang harga saham yang harus didivestasikan oleh raksasa tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut.

"Freeport masih terus berunding. Kita maunya bisa menyelesaikan secara cepat. Yang belum selesai sampai sekarang adalah proses divestasi. Yang dalam hal ini diwakili oleh Menkeu (Sri Mulyani) dan Menteri BUMN (Rini Soemarno). Ya namanya tawar menawar, kendalanya belum cocok," katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Saat ini, pemerintah berupaya untuk menggunakan cara lain dalam menguasai saham Freeport, yakni dengan membeli hak partisipasi atau participating interest (PI) milik perusahaan tambang asal Australia, Rio Tinto, yang ada di tambang Grasberg, Papua.

Perusahaan itu sendiri memiliki 40% saham Freeport. Nantinya, akan dibuat perjanjian untuk mengonversi hak partisipasi tersebut menjadi saham.

"Betul (beli hak partisipasi Rio Tinto). Ya kalau kesepakatan para pihak setuju kenapa tidak (konversi jadi saham). Ya diperjanjiannya diperjanjikan," katanya.

Bambang sendiri mengatakan, bahwa sejatinya Freeport lah yang memiliki kewajiban untuk melepas sahamnya. Cara ini dilakukan agar pemerintah bisa menguasai 51% saham Freeport. Walau begitu, Bambang menegaskan bahwa cara ini bukan dimaksudkan untuk membebaskan Freeport dari kewajiban divestasi.

"Ya enggaklah (kewajiban divestasi Freeport bebas). Kok bisa bebas? Rio Tinto itu dimana sekarang? Kan tujuan utama pemerintah apa? Memiliki saham 51%. Kalau itu tercapai 51%, asal sahamnya dari mana ya tetap divestasi," katanya.

Untuk diketahui, Kerjasama Freeport McMoran dengan Rio Tinto dimulai 1995 untuk mengelola tambang Grasberg di Papua, Rio Tinto memiliki hak 40% atas hasil produksi yang telah mencapai level tertentu. Namun setelah 2021, Rio Tinto mendapat bagian 40% atas produksi tambang Grasberg.

Sementara, saham yang ada di Freeport Indonesia saat ini terdiri dari saham Freeport McMoran sebesar 81,28%, PT Indocopper Investama (perusahaan berbadan hukum Indonesia yang 100% dimiliki Indonesia) sebesar 9,36% dan saham pemerintah Indonesia sebesar 9,36%.

Jika 40% hak memiliki Rio Tinto dikonversi menjadi saham, maka akan ada perubahan persentase dalam susunan saham PTFI. Karena perbandingannya adalah 40% milik Rio Tinto dan 60% milik PTFI. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed