Follow detikFinance
Kamis, 28 Des 2017 13:50 WIB

Cara Pemerintah Optimalkan Kilang LNG Badak di Kaltim

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) menandatangani perjanjian pengoperasian, pemanfaatan dan optimalisasi aktiva kilang LNG Badak dengan PT Badak NGL. Dalam perjanjian ini, LMAN menunjuk PT Badak NGL sebagai operator untuk mengelola kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim).

Penandatanganan perjanjian ini merupakan rangkaian proses pengelolaan kilang LNG Badak yang telah ditetapkan sebagai barang milik negara sesuai Keputusan Menteri Keuangan, tentang penetapan status eks Pertamina sebagai barang milik negara yang telah diserahkan kepada LMAN.

Direktur Utama LMAN, Rahayu Puspasari, mengatakan dalam hal ini Kementerian Keuangan yang diwakili oleh LMAN menunjuk PT Badak NGL sebagai operator atas rekomendasi dari SKK Migas.

"Dengan ditunjuknya sebagai operator, maka PT Badak NGL bisa mengoperasikan aset negara. Nantinya gas producer yang mengatur adalah SKK Migas," kata Rahayu usai penandatanganan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jendral Kekayaan Negara, Isa Rachmatarwata, mengatakan penandatanganan ini sebagai salah satu upaya dari pemerintah mengelola dan mengoptimalkan aset milik negara.

"Penandatanganan perjanjian ini dimaksudkan agar LMAN dapat melakukan optimalisasi aktiva kilang LNG Badak. Inisiatif ini merupakan upaya dari LMAN untuk mempercepat penyelesaian berbagai permasalahan dengan cara pendayagunaan aset yang optimal," katanya.

Sementara itu Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, mengatakan kilang LNG Badak ini sangat penting untuk usaha hulu migas. Dia mengatakan, beberapa lapangan migas sangat membutuhkan fasilitas LNG yang ada di Bontang ini.

"Sebagai contoh misalnya saat ini ada proyek Jangkrik yang operatornya ini nilai investasinya Rp 52,7 triliun, kemudian ada juga proyek IDD baru lapangan Bangka yang operatornya adalah Chevron dengan nilai investasi Rp 10 triliun. Kedua lapangan tersebut membutuhkan fasilitas LNG yang ada di Bontang, yang dioperasikan PT Badak NGL," katanya.

"Jadi kalau ada masalah di PT Badak NGl, kedua lapangan yang investasinya puluhan triliun maka investasinya akan terganggu. Di samping itu kalau ada gangguan di PT Badak NGL, maka produksi LNG juga akan terganggu. Jadi operasi Badak NGL ini sangat penting bagi hulu migas," sambung dia.

Sementara itu Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo, mengatakan optimalisasi kilang LNG Badak ini diharapkan bisa memberi manfaat besar, khususnya untuk penerimaam negara. Dia berharap PT Badak NGL bisa mengoperasikan dengan baik kilang LNG Badak milik negara ini.

"Penting bagi pemerintah termasuk Kementerian Keuangan. Ini pemanfaatan benefit untuk masyarakat melalui peningkatan penerimaan negara baik itu PNBP gas dan migas, dan juga dari pajak terhadap migas itu sendiri, sehingga itu goodnews untuk negara. Dengan penerimaan yang meningkat jadi ada daya untuk berikan spending ke masyarakat, apakah itu infrastruktur atau yang lainnya," pungkasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed