Dia juga menilai, kenaikan harga minyak ini tidak akan mempengaruhi neraca keuangan PT Pertamina (Persero) dan tidak akan mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM).
Dia mengatakan ICP pada asumsi makro adalah US$ 48 per barel. Namun saat ini US$ 50 per barel. "Ini artinya sudah ada US$ 2 per barel. Maka APBN kita untung Rp 2,2 triliun di mana setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel dan untung Rp 1,1 triliun," kata Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (8/1/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasa Pertamina cukup baik. Tapi jika mereka harus ekspansi dan membutuhkan belanja modal cukup banyak, maka (Pertamina) mendapatkan tekanan, butuh dukungan lebih. It's gonna be manageable," ujarnya.
Dia mengungkapkan, untuk setiap pelemahan kurs rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS, maka APBN akan untung Rp 2,1 triliun. "Jadi kenaikan (ICP) ini tidak akan membuat Pertamina kolaps dari neraca keuangannya," imbuh dia. (dna/dna)











































