Follow detikFinance
Kamis 11 Jan 2018, 16:36 WIB

Produksi Batu Bara RI 2017 Capai 461 Juta Ton

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Produksi Batu Bara RI 2017 Capai 461 Juta Ton Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Produksi batu bara dalam negeri selama 2017 mencapai 461 juta ton. Angka ini lebih tinggi dari target produksi batu bara di 2017. Adapun berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019, target produksi tahun ini hanya 413 juta ton.

Dirjen Mineral Batu Bara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, mengatakan walaupun realisasi produksi batu bara lebih tinggi dari target RPJMN, namun hasilnya masih lebih rendah dibanding target rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) 2017 yang telah diajukan para perusahaan batu bara.

Untuk produksi batu bara tahun 2017, realisasi dari RKAB yang sudah ditentukan 477 juta ton ternyata terealisasi 461 juta ton.

"Kenapa enggak tercapai? Karena ada beberapa perusahaan yang masih terkendala beberapa perizinan, AMDAL, dan lainnya. Targetnya mereka pada saat mengajukan seharusnya merencanakan itu, tapi begitu realisasi sampai sekarang belum bisa menyelesaikan itu. Akhirnya mereka tidak tercapai, proyek itu angka-angka yang sudah direncakan," kata Gatot di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Sementara untuk tahun ini, Gatot mengatakan, produksi sesuai RPJM sebanyak 425 juta ton. Gatot menjelaskan, untuk mengendalikan produksi agar tak berlebih pemerintah menetapkan batas produksi di 2018 sebesar 5% lebih tinggi dari realisasi 2017.

"Untuk tahun 2018 pemerintah memberikan toleransi kemungkinan penyampaiannya 5% dari tahun 2017. Kira-kira 485 juta ton. Kita berharap dengan pemanfaatan domestik yang meningkat," katanya.

Dari pencapaian produksi batu bara di tahun 2017 sebanyak 461 juta ton, 97 juta ton di antaranya dimanfaatkan di dalam negeri. Sedangkan target pemanfaatan batu bara dalam negeri di tahun 2017 mencapai 121 juta ton.

"Kemudian untuk pemanfaatan batu bara domestik, ini masih belum sesuai dengan target, yang mana pada tahun 2017 seharusnya 121 juta ton, dan terealisasi 97 juta ton. Banyak faktor yang mempengaruhi ya, antara lain mungkin masih belum mulainya PLTU dan beberapa industri yang mengalami kendala," pungkasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed