Follow detikFinance
Selasa, 30 Jan 2018 18:08 WIB

Pertamina Hanya Miliki 10% Kilang Bontang

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi Kilang (Foto: Agung Pambudhy) Ilustrasi Kilang (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Overseas Oil and Gas LLC (OOG) dan Cosmo Oil International Pte Ltd (COI) terpilih menjadi mitra PT Pertamina (Persero) dalam membangun kilang di Grass Root Refinery (GRR) Bontang, Kalimantan Timur. Kedua perusahaan yang membentuk konsorsium itu akan bekerjasama dengan Pertamina dalam bentuk joint venture.

Rencananya dengan kedua perusahaan tersebut akan dibangun kilang berkapasitas 300 barel per hari (bph). Adapun nilai investasinya ditaksir mencapai US$ 10 miliar atau setara Rp 130 triliun.


Namun kepemilikan Pertamina di kilang tersebut pada tahap awal hanya 10%. Bahkan kepemilikan tersebut didapat secara cuma-cuma. Sebab pembiayaan akan dilakukan oleh OOG.

Perusahaan asal Oman itu juga akan akan menyuplai bahan minyak mentah (crude). Sedangkan COI yang berasal dari Jepang bertugas sebagai marketing untuk mengekspor produknya.

"Kerja sama ini nanti fully funded oleh konsorsium. Pertamina dalam hal ini tidak sertakan permodalan, namun dapat minimum 10% share sebagai keikutsertaan di konsorsium," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ardhy N Mokobombang di Gedung Pertamina, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Namun, Pertamina memiliki peluang untuk menambah porsi kepemilikan pada saat Final Investment Decision (FID) yang diharapkan tercapai pada 2020. Setelah itu diharapkan kilang tersebut berproduksi pada 2025.

Dari porsi itu Pertamina mendapatkan hak untuk memasok sampai 20% dari minyak mentah GRR Bontang, lalu juga Product Offtake di mana Pertamina tidak memberikan jaminan offtake, serta Pertamina bersedia bekerjasama untuk joint marketing.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Gigih Prakoso menambahkan, kecilnya porsi kepemilikan Pertamina dalam rangka mengedepankan aspek kehati-hatian dalam proyek tersebut. Perseroan pun masih bisa memperbesar porsi kepemilikannya.

Gigih juga menegaskan, meski porsi kepemilikan Pertamina kecil, namun kebutuhan pasokan minyak untuk dalam negeri akan di prioritaskan. Meskipun sebagian produk dari kilang Bontang juga akan diekspor.

"Dengan 10 persen, bukan berarti kita tidak bisa kendalikan perusahaan. Memang secara company, dalam bisnis secara umum, kita tidak punya voting atau suara sama sekali. Tapi jangan lupa, ini kan kita bisa desain di awal bahwa kita punya komitmen juga untuk ambil produk. Apabila untuk ketahanan nasional, tentunya kita bisa buat komitmen dengan pihak partner, tentunya harus diprioritaskan," tegasnya.

Kilang tersebut akan memproduksi BBM seperti avtur yang rencananya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara untuk hasil produk solar akan di ekspor.

"10% ini pun belum final, kembali lagi saya sampaikan, komitmen Pertamina untuk proyek ini sangat besar. Jangan dilihat karena 10% saja, seolah-olah ini jadi tidak prioritas. Tetap ini menjadi prioritas, menjadi proyek yang sangat penting, karena ini juga mendukung ketahanan nasional," pungkasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed