Follow detikFinance
Kamis 01 Feb 2018, 14:39 WIB

Bisakah RI Bikin PLTS Murah Seperti di Arab? Ini Kata Arcandra

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Bisakah RI Bikin PLTS Murah Seperti di Arab? Ini Kata Arcandra Foto: Pool/Agus Trimukti.
Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar berbicara mengenai tarif pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Arcandra membandingkan tarif PLTS di UEA yang bisa berada di level US$ 3 cent per kWh dengan tarif PLTS di Indonesia.

"Misalnya di Middle East tarif tenaga surya bisa di bawah US$ 3 sen, pertanyaannya apakah di Indonesia mampu enggak bikin PLTS di bawah US$ 3 sen, mampu enggak kita, mari analisa satu-satu," ujar Arcandra di Universitas Pertamina, Simprug, Jakarta Selatan, Kamis (1/2/2018).

Arcandra mengatakan, murahnya PLTS di UEA tidak terlepas dari mudahnya mendapatkan lahan untuk dibangun pembangkit ramah lingkungan tersebut. Hal ini jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia.

"Persoalannya surya kita, kalau di negara Arab itu lahan free ya, mungkin enggak ya kita mendapatkan membangun energi surya PLTS di Jawa misalnya dengan lahan free. Enggak usah di Jawa apalagi di Jakarta butuh 20 hektar untuk yang free dipasang di Monas gitu," kata Arcandra.

Selain permasalahan lahan, Arcandra juga menjelaskan mengenai kualitas matahari di Indonesia yang berbeda dengan UEA. Kualitas matahari di UEA mencapai 30% dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih rendah dari Indonesia untuk kebutuhan pendanaan pembangunan PLTS.

"Jadi kualitas matahari di sana sekitar 30% lebih tinggi dari pada kita. Interest rate (tingkat bunga) kita masih di 10-11%, di sana udah di bawah 2%. Bagi yang ingin berbisnis dengan interest rate, tax pajak corporate tax kita masih 25%, di Arab sana kemungkinan tax bisa free," kata dia.

Dari sisi skala kapasitas PLTS, Indonesia juga kalah jauh dibandingkan UEA. Pola konsumsi listrik di UEA dengan Indonesia pun jauh berbeda.

"Kemudian pembangunan PLTS kita di Indonesia ini kecil-kecil, sementara skala di sana 100-200 MW, scale of economy nya kecil, selanjutnya kenapa solar pv bisa maju di sana, beban puncak di sana siang hari, karena butuh untuk AC. Nah beban puncak kita itu malam hari, karena malam hari butuh baterai," papar dia. (ara/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed