Follow detikFinance
Rabu, 14 Feb 2018 19:48 WIB

Koperasi Energi Baru Terbarukan Pertama di RI Resmi Berdiri

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance
Jakarta - Sejumlah pegiat energi baru terbarukan resmi mendirikan Koperasi Energi Terbarukan Indonesia atau Kopetindo. Kopetindo merupakan badan usaha berbentuk koperasi pertama yang bergerak khusus di bidang energi terbarukan.

Kopetindo didirkan dengan tujuan membangun Indonesia dengan memanfaatkan energi terbarukan dari lokal dan menerapkan teknologi tepat guna. Kopetindo akan memanfaatkan potensi energi lokal yang ada di sejumlah daerah seperti angin, matahari, biomass, biogas, sampah, skala mikro maupun mini, panas bumi hingga gelombang laut.

"Target kopetindo adalah Indonesia bebas dari energi impor yang sangat menguras devisa negara. Kami yakin target ini dapat terjangkau dalam waktu 10 tahun ke depan, mengingat Indonesia punya sumber daya alam yang sangat besar," ujar Ketua Kopetindo Widi Pancono dalam launching Kopetindo di Apartemen Istana Sahid, Jakarta, Rabu (14/2/2018).


Widi mengatakan, Kopetindo memiliki semangat membantu mewujudkan target bauran energi terbarukan yang dicanangkan pemerintah sebesar 23% di tahun 2025 nanti. Dia bilang, seluruh energi fosil yang ada saat ini dapat digantikan dengan energi terbarukan. Seperti solar dapat digantikan dengan biodiesel, avtur digantikan bioavtur, elpiji digantikan biogas, batu bara dapat digantikan dengan energi air, angin, hingga matahari yang melimpah ruah.

Kopetindo saat ini memiliki 106 orang anggota, dengan jumlah setoran awal sebesar Rp 2,5 juta yang berlaku seumur hidup. Dengan modal itu, Kopetindo akan bergerak sebagai badan usaha koperasi yang melaksanakan sejumlah kegiatan usaha di bidang energi terbarukan.


"Kami sudah ada contoh lampu tenaga surya hemat energi. Kami akan menjual itu dengan satu paket kredit yang cukup murah sehingga daerah mampu membeli. Terutama kami isi kekosongan yang belum diisi pemerintah. Jadi kami coba membantu perluas pasar itu. Kemudian kami mengejar solar rooftop kami bikin pembiayaannya dengan suatu lembaga pembiayaan yang bisa berikan fasilitas kredit ringan," ujar Widi.

"Ada juga rencana melakukan hibrid dengan menggabungkan PLTA dengan PLTBM di Simalungun, Sumut. Sehingga pembangkit biomassa bisa semakin bersaing. Kapasitasnya 1 MW," tambahnya.

Ketua umum masyarakat energi terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma berharap, hadirnya Kopetino bisa menjadi penggerak di lapangan dalam berbagai bentuk usaha seperti survei potensi energi terbarukan di perdesaan, perencanaan pembangunan listrik desa berbasis energi terbarukan, pembangunan instalasi listrik desa berbasis energi terbarukan, pengadaan teknologi berbasis energi terbarukan tepat guna hingga pendanaan pembangunan listrik desa.


"Ini merupakan satu hal yang sangat langka di tengah upaya pengembangan EBT yang sangat gencar, tidak ada koperasi disebut-sebut di sektor ini. Karena itu, kehadiran Kopetindo akan melengkapi sektor ini karena kegiatan perekonomian itu sudah dilakukan BUMN, swasta dan kini koperasi," katanya.

"Ini barangkali jadi catatan sejarah karena para pendiri bangsa ini sudah bersusah payah buat koperasi untuk jadi pilar utama bukan pilar pelengkap. Makanya harapan kami, pemerintah bisa memberi dukungan karena yang namanya badan usaha kan perlu pembinaan karena dia baru lahir. Dia harus belajar dulu. Kalau dia harus berkompetisi sebagaimana lazimnya di sektor energi, pasti dia akan kalah, oleh karena itu perlu peran pemerintah," pungkas Surya Dharma. (eds/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed