Follow detikFinance
Kamis, 15 Feb 2018 15:13 WIB

PLN Mulai Proyek Jawa-Bali Crossing

Prins David Saut - detikFinance
Foto: Pool/Agus Trimukti/Humas PLN Foto: Pool/Agus Trimukti/Humas PLN
Denpasar - Permintaan listrik yang terus meningkat seiring pembangunan di Pulau Dewata, membuat PLN mengambil langkah cepat dengan proyek Jawa-Bali Crossing (JBC).

"Jawa-Bali Crossing sudah jalan sebagai antisipasi. Kalau JBC tidak masuk, maka cadangan listrik akan sangat kecil, belum krisis. Tapi kalau permintaannya terus naik, maka bisa timbul krisis. Standar cadangan listrik dari PLN di suatu wilayah itu 30 persen," kata Deputy Manager Energi Alternatif Divisi Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Dewanto.

Dewanto menyampaikan hal ini dalam acara diskusi 'Masa Depan Energi Terbarukan di Bali' yang digelar di Kubu Kopi, Jl Hayam Wuruk, Denpasar, Bali, Kamis (15/2/2018). Ia kemudian menjelaskan cadangan listrik sangat penting, khususnya untuk Bali sebagai destinasi wisata dunia

"Dulu pernah kita alami investor mau masuk tapi listriknya belum siap. Jadi harus bangun pembangkit dulu tapi itu tidak sebentar, minimal 2 tahun," ujar Dewanto.

"Untuk membangun PV (photovoltaic) saja membutuhkan 18 bulan dengan kapasitas 50 megawatt. Sekarang, PLN mensupport pemerintah untuk masuknya investazi, maka cadangan itu penting," pungkasnya.

Berdasarkan data dari PLN, Bali memiliki daya terpasang sebesar kurang lebih 1.290 megawat dengan daya mampunya hanya di kisaran 1.100 megawatt. Jika asumsi kebutuhan listrik sebesar 8,7 persen per tahun, maka di 2021 Pulau Bali akan mengalami beban puncak sebesar 1.214 megawatt.

"Kita harus punya cadangan (listrik). Planning PLN untuk JBC itu paling efisien daripada menempat pembangkit listrik di sini. PLTU dibangun itu cukup mahal, belum masalah lokasi dan isu-isu lingkungan," ucap Dewanto.

Data dari PLN juga menunjukkan proyek JBC ini akan dilakukan dengan membangun sutet 500 kv sehingga bisa mengalirkan 2.800 megawatt pasokan listrik. Kapasitas besar itu setara 9 PLTU berkapasitas masing-masing 300 megawatt.

Green energy

Proyek JBC ini menelan biaya Rp 4,8 triliun untuk 514 menara listrik dari bagian barat Situbondo melalui utara Banyuwangi lalu kabel di dasar laut dan masuk ke Bali melalui Buleleng ke Jembrana hingga Tabanan. Kabel di bawah laut itu akan dipasang sepanjang 2,68 Km.

Pemda-pemda di Bali selalu menggalakan green energy, namun kebutuhan listrik sudah mendesak. Oleh karena itu, PLN memulai proyek Jawa-Bali Crossing yang dinilai mampu membantu Bali mengembangkan green energy tanpa khawatir krisis energi di 2020.

"Ada efek positif untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan JBC ini. Bali dan Jawa kan dipisahkan selat yang tidak jauh," terang Dewanto.

Dewanto menjelaskan JBC yang akan menyalurkan 2.800 megawatt energi tambahan dari Situbondo ke Bali adalah bentuk dukungan untuk mengembangkan EBT. Yakni melalui peningkatan cadangan listrik bersamaan dengan pengembangan EBT.

"Ada potensi besar 25-50 megawatt di timur dan barat Pulau Bali. Kalau PV (photovoltaic) itu saat cuaca mendung akan mati, kalau tidak ada back up (JBC) maka akan berbahaya," ujar Dewanto.

"Karena itulah, dengan JBC ini memberikan jaminan PV dan EBT dikembangkan di Bali. Potensi PV di Bali cukup besar," pungkasnya.

JBC disebut Dewanto juga mendukung investasi di Bali dengan memberikan kepastian tercukupinya kebutuhan listrik yang selalui naik 8,5 persen setiap tahun. Ongkos untuk JBC juga dinilai lebih murah dan cepat daripada membangun EBT yang memakan waktu cukup lama.

"Manfaatnya adalah dengan JBC ini maka EBT bisa dikembangkan, seperti PLTU dan PLTS berkapasitas 1 megawatt di Karangasem dan Bangli. Jadi setiap rencana kelistrikan akan seperti itu," ucap Dewanto. (vid/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed