"Kadang-kadang mungkin ada pengusaha, udah ah ngapain digital, karena mungkin yang bersangkutan gaptek (gagap teknologi) dan ada yang buktikan itu berhasil. Tapi kalau dia nggak adaptif pasti ketinggalan, kalau yang lain growth-nya tinggi dia segitu-segitu aja. Digitalisasi itu sangat dominan," kata Tony dalam acara Quo Vadis Ekonomi Digital Indonesia di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Rabu (21/2/2018).
Ia menambahkan operasional tambang bawah tanahnya yang baru di tahun ini menggunakan teknologi yang meminimalisir sentuhan antara pekerja dengan material tambang. Tony mencontohkan peledakan material tambang di bawah tanah hanya cukup dikontrol menggunakan satu tombol di tempat terpisah, layaknya permainan video game.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, sistem pengawasan terhadap pertambangan di tambang Freeport bisa dilakukan dari jarak jauh memanfaatkan teknologi. "Saya bisa lihat dari laptop atau iPad saya," ujar Tony.
Akan tetapi, pemanfaatan teknologi juga perlu dibatasi agar hubungan antara karyawan tidak renggang.
"Terlepas dari semua proses digital yang ada tentunya human relation, human touch tidak bisa dilupakan. Jangan sampai kasih tahu sebelahan pakai email. Dalam suatu organisasi satu teamwork gunakan alat memudahkan tapi human touch harus kita lakukan," ujar Tony. (zlf/zlf)











































