Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Feb 2018 12:55 WIB

Konsumsi Listrik Orang RI Lebih Rendah Dibanding Negara Tetangga

Fadhly F Rachman - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Masyarakat didorong untuk bisa memanfaatkan energi listrik lebih tinggi. Hal itu sejalan dengan kesiapan pemerintah dalam menyediakan energi listrik dari program 35.000 megawatt (MW).

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN (Persero) I Made Suprateka mengatakan saat ini tingkat konsumsi listrik masyarakat perkapita terbilang rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal itu menjadi salah satu dasar pemerintah untuk bisa mendorong pemanfaatan energi listrik dalam produktivitas sehari-hari.

"Karena kalau dibandingkan negara lain, kita itu paling terkecil perkapitanya menggunakan energi listrik. Jangankan Eropa, di negara-negara Asean juga kita masih tergolong paling rendah," kata Made kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri mencatat konsumsi listrik masyarakat pada sepanjang tahun lalu meleset dari target. Rata-rata konsumsi listrik masyarakat sepanjang tahun lalu hanya 1.012 kiloWatt hour (kWH) per kapita.

Meski angka itu masih naik dari realisasi tahun 2016 sebesar 956 kWh per kapita, namun capaiannya masih di bawah target yang dipatok sebesar 1.058 kWh per kapita.

Bila dibandingkan negara-negara tetangga, konsumsi listrik Indonesia memang cukup tertinggal. Dari catatan Bank Dunia, pada tahun 2014, konsumsi listrik Thailand telah mencapai 2.540 kWh per kapita, Malaysia 4.596 kWh per kapita, Vietnam 1.439 kWh per kapita, dan Singapura sudah mencapai 8.854 kWh per kapita.

Made menjelaskan, salah satu alasan masih rendahnya konsumsi listrik masyarakat Indonesia karena penyediaan tenaga listriknya yang masih terbatas. Namun, saat ini program 35.000 MW pemerintah sudah hampir selesai, dan dan sudah bisa menyediakan sumber daya yang cukup untuk masyarakat.

Oleh sebab itu, pemerintah sekarang mendorong masyarakat untuk bisa menggunakan energi listrik lebih tinggi karena sumber dayanya yang juga telah tersedia. Dengan peningkatan energi listrik ini, diharapkan bisa mendorong produktivitas dan aktivitas masyarakat bisa lebih berkembang.

"Karena kemarin penyediaan listriknya belum siap. Sekarang kalau sudah siap kita tingkatkam supaya mereka menggunakan tenaga listrik, meningkatkan produktivitasnya," tutur Made. (eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed