Sulitnya medan dan terbatasnya alat transportasi membuat PLN harus bekerja keras untuk melistriki rumah 450 kepala keluarga (KK) yang ada di pulau tersebut.
General Manager PLN Wilayah NTB Mukhtar mengatakan tantangan paling besar yang dihadapi saat melistriki wilayah-wilayah terpencil adalah medan yang sulit dan alat transportasi yang terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: PLN Mau Konsumsi Listrik Masyarakat Naik |
Untuk melistriki Gili Gede misalnya, pengangkutan peralatan kelistrikan dengan cara-cara tradisional, yaitu menggunakan tongkang sederhana yang ditarik oleh sebuah kapal kayu. Untuk menaikkan seluruh peralatan, seperti gulungan kabel, trafo dan tiang juga dilakukan secara manual, dengan digotong atau menggunakan gerobak.
"Hal ini membuat proses pengangkutan dan pembangunannya lebih lama. Karena kapal dan peralatannya sederhana, tentu kami harus lebih hati-hati. Ombak besar sedikit, tentu menaikkan peralatan ke kapal lebih sulit, bahkan terkadang kami harus menunda pengangkutan sampai cuacanya membaik," kata Mukhtar dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/2/2018).
Foto: dok. PLN |
Begitu juga saat tiba di Gili Gede seluruh peralatan diangkut dari dermaga menuju lokasi pemasangan menggunakan gerobak, bahkan terkadang harus digotong oleh beberapa petugas. Pasalnya, selain akses jalan yang kecil, di Gili Gede pun tidak terdapat mobil.
"Kami akan menyambungkan dua kabel sekaligus, satu sebagai cadangan, sehingga jika ada gangguan, penyaluran listrik bisa dialihkan. Selain itu, kalau pertumbuhan beban tinggi, kami juga tetap bisa penuhi," kata Mukhtar.
Baca juga: Begini Cara PLN Dongkrak Konsumsi Listrik RI |
Gili Gede merupakan salah satu pulau yang memiliki potensi di bidang perikanan dan pariwisata. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan budidaya ikan laut. Beberapa penduduk juga memiliki homestay bagi wisatawan. Saat ini, penduduk Gili Gede menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Oleh karena itu, kehadiran listrik PLN ini diharapkan mendorong perekonomian masyarakat Gili Gede. (ara/ara)












































Foto: dok. PLN