Follow detikFinance
Sabtu, 21 Apr 2018 13:35 WIB

Pantaskah Nicke Nakhodai Pertamina?

Danang Sugianto - detikFinance
Nicke Widyawati (Foto: Erwin Dariyanto/detikcom) Nicke Widyawati (Foto: Erwin Dariyanto/detikcom)
Jakarta -
Pemerintah menunjuk Nicke Widyawati untuk menjadi Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Hal itu menyusul diberhentikannyaElia Massa Manik dari pucuk pimpinan BUMN terbesar itu.

Beragam pandangan muncul tentang kapabilitas Nicke untuk memimpin Pertamina meskipun bersifat hanya sementara. Ada yang menganggap pantas, ada pula yang curiga pemilihannya mengandung unsur politik.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara curiga Nicke yang merupakan ketua implementasi holding BUMN migas dipilih lantaran kedekatannya dengan pemerintah saat ini. Dengan begitu pemerintah bisa lebih mudah untuk mengatur BUMN yang pernah masuk dalam jajaran perusahaan terbaik dunia versi Fortune 500 itu.

"Bukan kita tidak bisa untuk menilai kemampuan manajemennya. Tapi bahwa ini ada kepentingan politik. Agar ada yang punya link ke pemerintah. Jadi akan lebih mudah lewat Bu Nicke untuk melakukan lobi," tuturnya di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (21/4/2018).

Menurut Marwan masih ada nama-nama yang lebih kompeten untuk mengisi kekosongan pucuk pimpinan Pertamina, seperti Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam dan Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan (KSPP) Kementerian BUMN Ahmad Bambang (Abe) yang juga pernah menjadi Wakil Direktur Utama Pertamina. Keduanya dianggap memiliki pengalaman dan ilmu lebih dibandingkan Nicke.

"Kualifikasinya harus dipenuhi kalau ada orang dalam di sana misalnya ada Pak Syamsu Alam atau Pak Abe yang masuk lagi kita lebih confident," ucapnya.

Sementara dilokasi yang sama, Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi menilai, pemerintah sengaja menunjuk Nicke untuk mempercepat pembentukan holding BUMN migas. Dia juga berpendapat justru pengalamannya sudah lebih dari cukup untuk memimpin Pertamina.

"Dia baru beberapa bulan sudah mampu menyelesaikan masalah holding. Kemudian pengalaman dia apakah di perusahaan swasta, BUMN termasuk PLN itu bekal yang bagus untuk menahkodai BUMN ini," tuturnya.

Sebelum akhirnya diangkat menjadi Plt Dirut Pertamina, Nicke menjabat sebagai Direktur SDM di perusahaan tersebut. Pengamanatannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-256/MBU/11/2017, tanggal 27 November 2017 tentang Pengangkatan Anggota Direksi Perseroan.

Wanita tersebut juga sempat menjabat sebagai Plt Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-39/MBU/02/2018 tanggal 13 Februari 2018.


Pertamina sendiri bukan perusahaan milik negara yang pertama kali dia tempati. Sebelumnya, Nicke pernah menjadi salah satu direksi di PT PLN (Persero). Nicke pernah berkarir sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN.

Dia pernah dipercaya sebagai Direktur Utama PT Mega Eltra, perusahaan kontraktor listrik di lingkungan holding PT Pupuk Sriwijaya, juga menjadi Direktur Bisnis di PT Rekayasa Industri (Rekind), dan Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) di perusahaan yang sama.

Gelar pendidikan terakhir yang dia peroleh adalah gelar Magister (S2). Untuk memperoleh gelar tersebut dia menempuh pendidikan Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mendapatkan gelar Sarjana (S1) tahun 1991.

Kemudian dia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program pendidikan Hukum Bisnis di Universitas Padjadjaran dan mendapat gelar Magister (S2) tahun 2009.
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed