Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Jul 2018 21:50 WIB

Jangan Bebani BUMN Demi Prestasi Politik

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Fuad Hasim Foto: Tim Infografis: Fuad Hasim
FOKUS BERITA Pertamina Jual Aset
Jakarta - Kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) tengah seret hingga harus menjual sebagian aset anak usahanya agar bisa menjaga kondisi keuangan tetap sehat. Salah satu biang keladinya disinyalir soal beban harga bahan bakar minyak (BBM) yang ditahan.

Pengamat BUMN yang juga Mantan Staf Khusus Kementerian ESDM Said Didu mengatakan, pmerintah sebenarnya punya pilihan untuk mengambil tindakan seperti menambah subsidi atau menaikkan harga BBM.

Toh, mahalnya harga BBM tak hanya dihadapi Indonesia melainkan seluruh negara di dunia terimbas naiknya harga minyak mentah. Sehingga, bukan hal yang berlebihan bila pemerintah menaikkan harga BBM saat ini.

"Sekarang ini kan pemerintahan manapun menghadapi masalah itu (harga bbm mahal)," kata dia saat dihubungi detikFinance, Senin (22/7/2018).


Melihat kondisi itu, Said Didu menyarankan agar pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan Pertamina. Jangan hanya karena ingin dianggap berprestasi menyediakan BBM murah bagi masyarakat, pemerintah justru mengorbankan kelangsungan BUMN.

Bila harga BBM terus ditahan, maka bukan tidak mungkin Pertamina yang punya tanggung jawab menyediakan BBM bagi masyarakat bakal bangkrut.

"Jadi begini lah, tolong jangan dikorbankan BUMN apapun Pertamina, PLN demi prestasi politik. Karena, BUMN-nya yang bangkrut," kata dia kepada detikFinance Senin (23/2018).

Pemerintah kata Said Didu, harus lebih bijak dalam memberikan penugasan pada Pertamina.

"Gini lah saya nggak setuju kalau BUMN yang dikorbankan untuk menanggung beban pemerintah," sambung dia.


Perlu tahu saja, saat ini Pertamina harus menanggung selisih harag BBM antara harga keekonomian dengan harga yang diterapkan saat ini.

Said mencontohkan, harga BBM jenis premium yang ditahan di angka Rp 6.500/ liter sementara harga asli tanpa subsidi Rp 8.500/liter. Artinya Pertamina nombok Rp 2.000/ liter.

Begitupun Said menjelaskan untuk solar, pemerintah hanya memberikan subsidi Rp 500 untuk solar. Saat ini harga solar di pasaran dunia Rp 8.350/liter sementara pemerintah menekan harga Rp 5.150/ liter.

"Artinya selisih kekurangan dari solar dan premium ditanggung Pertamina," tandas dia. (dna/dna)
FOKUS BERITA Pertamina Jual Aset
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com