Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Feb 2019 14:46 WIB

Tudingan Miring Divestasi Freeport

Sudirman Said 'Ribut' Freeport: Papa Minta Saham hingga Kritik Jokowi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sudirman Said/Foto: Ari Saputra Sudirman Said/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Proses pengambil alihan saham PT Freeport Indonesia kini menjadi pembahasan kembali. Kali ini Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan bos besar Freeport McMoran untuk negosiasi saham Freeport Indonesia.

Ribut-ribut itu bukanlah kali pertama yang dilakukan Sudirman Said, beberapa tahun lalu, Sudirman pernah membuat 'keributan' di proses divestasi Freeport, saat itu terkait kasus "Papa Minta Saham" yang dilakukan oleh mantan ketua DPR Setya Novanto.

Dari catatan detikFinance (1/12/2015) Sudirman Said menginginkan divestasi Freeport dilakukan melalui skema initial public offering (IPO). Hal ini menurut dia agar semua orang bisa mengawasi proses divestasi.

"Freeport sudah mengirim surat meski belum berupa penawaran. Kita punya waktu 90 hari untuk memutuskan. Bila BUMN berminat seperti PT Inalum dan PT Antam, juga harus memperhatikan kondisi keuangan mereka untuk ambil penawaran ini. Kami akan duduk dengan Kementerian Keuangan untuk melihat keuangan (BUMN). Dari Freeport menunggu mekanisme detail, itu sedang di siapkan," ujar Menteri ESDM Sudirman Said.


Ia mengakui, lebih mendorong agar penawaran divestasi saham Freeport dapat dilakukan lewat IPO melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Soal IPO, itu normatif karena berjalan lebih transparan, karena mekanismenya sudah ada dan jelas serta semua orang bisa melihat," ungkapnya.

Dalam rapat kerja yang digelar di Ruang Rapat Komisi VII DPR ini, Wakil Ketua Komisi VII, Syaikhul Islam Ali juga mempertanyakan kejelasan divestasi saham Freeport. Berawal ketidakpastian divestasi saham ini, muncul pemberitaan 'Papa Minta Saham'.

"Kepastian divestasi seperti apa saat ini? Karena dari sini lah muncul segala macam pemberitaan sampai 'Papa Minta Saham, itu kan semua terkait divestasi. Kalau disampaikan sekarang, diberitakan bahwa belum ada rencana penawaran yang disampaikan ke pemerintah. Tapi tadi Bapak (Sudirman Said) bilang bahwa IPO adalah pilihan terbaik. Tolong dijelaskan," tanya Syaikhul.

Sudirman menambahkan, berdasarkan aturan, penawaran saham divestasi pertama kali diberikan kesempatan kepada pemerintah pusat, kemudian pemerintah daerah, lalu BUMN. Bila tak beli maka dapat ditawarkan melalui pasar modal alias melalui IPO.

"Divestasi, prinsip-prinsip sudah disepakati. Jadi pertama kali pemerintah pusat diberikan kesempatan, apabila ini dilakukan maka kesepakatan strategic sales tidak ada lewat pasar modal, kemudian Pemda diikutsertakan, kemudian apabila pemerintah tidak ambil, dan swasta yang ambil, maka dilakukan dengan mekanismenya lewat pasar modal," tutupnya.

Sudirman kembali 'berkicau' ia menyebut ada pertemuan rahasia antara Presiden Jokowi dan James Robert Moffet yang saat itu (2015) menjabat sebagai Executive Chairman Freeport McMoran.

Bermula pada 7 Oktober 2015, saat itu Sudirman yang masih menjabat sebagai Menteri ESDM dipanggil mendadak oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ketika dia sampai di Istana, dia diberi tahu oleh asisten Presiden bahwa tidak ada pertemuan, namun dia tetap diperintahkan menghadap Presiden.


Singkat cerita, sesampainya dia di ruangan kerja Jokowi, Sudirman melihat ada Jim Moffett, yang kala itu menjabat sebagai Executive Chairman Freeport McMoRan, sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi untuk membuat draft mengenai kesepakatan pembelian saham.

"Dan tidak panjang lebar, Presiden hanya katakan 'tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan, kira-kira kita ini ingin menjaga keberlangsungan investasi lah', nanti dibicarakan setelah pertemuan ini, 'baik pak Presiden'. Maka keluarlah saya bersama Pak Jim Moffett ke suatu tempat," ujar Sudirman di acara bedah buku bertajuk 'Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan' di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffett menyodorkan draft kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

"Pak Moffet sodorkan draft, kira-kira surat yang dibutuhkan seperti itu. Saya bilang sama Moffet 'this is not the way i do business, kalau saya ikuti draft-mu, maka yang akan ada Presiden negara didikte korporasi'. Saya tidak lakukan itu, 'you tell me what we have been discussed with president', dan saya akan buat draft yang lindungi kepentingan republik'," kata Sudirman seraya menirukan perkataannya kepada Moffett.

Kemudian setelah pertemuan dengan Moffett, Sudirman langsung menyampaikan draft tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman draft tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport bukan Indonesia.


Saksikan juga video 'Jokowi Jawab Tudingan Sudirman Said soal Pembelian Saham Freeport':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed