Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 25 Feb 2019 17:07 WIB

Baru Nyanyi soal Freeport dan Petral Sekarang, SS Sakit Hati?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Eks Menteri ESDM Sudirman Said membuka berbagai isu miring di sektor energi. Isu-isu yang dibahas mulai dari pertemuan tak wajar Presiden Jokowi dengan Bos Freeport pada 2015 silam, hingga mengungkap cerita di balik pembubaran Petral.

Lantas, kenapa baru sekarang Sudirman Said membuka cerita lama tersebut? Apa karena Direktur Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu sakit hati?

"Sakit hati karena apa? Saya sering mengatakan begini, perang politik kaya menteri itu tidak boleh dianggap rezeki, karunia, power, itu amanah. Kalau dicopot itu artinya kita dibebaskan dari beban itu," kata Sudirman Said kepada detikFinance, Jakarta, akhir pekan lalu.


"Jadi tanyalah kepada seluruh orang yang menyaksikan saya ketika diberhentikan, reaksi saya, sampai seluruh langkah-langkah setelah itu, ada nggak yang menunjukkan sakit hati," sambungnya.

Sudirman mengaku isu Freeport itu dia buka karena merespon buku yang diterbitkan oleh Simon Sembiring.

"Jawabannya sederhana, karena buku itu baru terbit Januari kemarin. Bersamaan dengan ulang tahunnya Pak Simon," katanya.


Sementara untuk isu mengenai Petral, kata Sudirman, karena belum lama ini dibahas dalam sebuah forum. Karena itu Sudirman Said ikut menanggapinya.

"Konteksnya sama, konteksnya itu momentum ada forum ya, kebetulan pada waktu diskusi ini menjelang persiapan debat soal energi, terus ada wartawan yang nanya. Jadi saya jelaskan apa adanya," jelasnya.

Lebih dari itu Sudirman mengatakan, bahwa dua isu tersebut sebenarnya sudah pernah dibahas dan bukanlah hal baru. Dia juga mengatakan bahwa hal ini masih merupakan hal yang wajar, mengingat posisinya saat ini berada di pihak oposisi.

"Kemudian saya sekarang ada di pihak oposisi, katakanlah yang sedang berjuang untuk melakukan pembaruan pemerintahan, itu hal yang normal saja. Bahwa harus terjadi satu dialektika untuk pendidikan publik gitu," kata dia.

"Dan juga untuk memperjuangkan hak publik atas segala macam informasi yang perlu diketahui harusnya. Jadi harusnya proses ini dijalankan dengan dingin saja nggak usah pakai kayak gini kan, kalau lihat bahasanya seperti ada yang mengatakan, hanya dua kemungkinan, Pak Sudirman itu pembohong atau penjilat, ya Allah kejam amat ini," tuturnya. (fdl/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com