Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 23 Apr 2019 19:26 WIB

Mengenal Proyek PLTU Riau-1 yang Seret Sofyan Basir ke KPK

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - PLTU Riau-1 telah menyeret sejumlah tokoh, dari mantan Menteri Sosial Idrus Marham hingga yang terbaru Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir. Kini, Sofyan Basir ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Bicara mengenai PLTU Riau-1, tak terlepas dari perusahaan multinasional BlackGold Natural Resources Limited atau BlackGold.

Dalam catatan detikFinance seperti mengutip laman BlackGold (24/8/2018), BlackGold bersama konsorsium menerima letter of intent (LoI) untuk perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) yang diumumkan pada awal tahun 2018 untuk proyek PLTU Riau-1. Konsorsium sendiri terdiri dari BlackGold, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), PT PLN Batubara (PLN BB) dan China Huadian Engineering Co Ltd (CHEC).

Konsorsium akan mengembangkan, membangun, mengoperasikan, dan memelihara pembangkit listrik tenaga batu bara mulut tambang dengan kapasitas 2x300 MW.



Berdasarkan LoI, konsorsium akan memasuki PPA definitif dengan PLN setelah memenuhi persyaratan dalam LoI.

Setelah menerima LoI, konsorsium akan membentuk perusahaan patungan untuk proyek Riau-1 guna menyelesaikan perjanjian offtake tetap jangka panjang dengan anak perusahaan BlackGold, PT Samantaka Batubara untuk memasok batu bara ke proyek Riau-1.

Proyek PLTU Riau-1 merupakan bagian dari mega proyek 35 ribu MW. Bila lancar, proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu 4-5 tahun.

Sebelum menjadi tersangka, Sofyan Basir pernah menyampaikan, proyek PLTU Riau-1 dihentikan sementara menyusul adanya kasus dalam proyek itu.

"Begitu ada kasus hukum kita berhentikan. Itu ada dalam LoI, bahwa jika ada permasalahan hukum dihentikan sementara dan dikaji kembali," katanya di Kantor Pusat PLN, Jakarta, 16 Juli 2018 lalu.


Sofyan menjelaskan proyek tersebut sejauh ini memang belum berjalan. Proyek tersebut baru sebatas penandatangan LoI.

"Mohon maaf proyek ini sampai sekarang belum putus, masih dari batas pelaksanaan mulut tambang," jelasnya.

Sofyan menjelaskan nilai dari proyek tersebut sebesar US$ 900 juta. Proyek pembangkit mulut tambang tersebut digarap lewat anak usahanya bersama konsorsium.


"Memang terlihat besar proyek PLTU, bisa sampai Rp 20 sampai Rp 50 triliun, kalau bangun tol bisa 1.000 km. Tapi kalian harus tahu bagaimana teknologi yang dipakai untuk membangun PLTU," sebutnya.

PLTU Riau-1 sendiri memiliki kapasitas 2x300 MW. Proyek ini ditargetkan beroperasi atau Commercial Operation Date (COD) pada 2023. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed