CONTINUE TO SITE >

Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Apr 2019 15:51 WIB

SKK Migas Bikin Lembaga Riset untuk Cari Cadangan Minyak

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Dok. Pertamina Foto: Dok. Pertamina
Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meresmikan lembaga insititusi yang bergerak untuk mendukung industri oil dan gas di Indonesia, Indonesia Oil and Gas Institute (IOGI).

Nantinya, IOGI akan bergerak sebagai lembaga resmi dari SKK Migas dalam menerbitkan data-data terbaru yang mendukung kinerja industri migas. Selain itu juga sebagai perencanaan dan strategi jangka panjang untuk cadangan hidrokarbon, lifting, serta optimasi biaya operasi.

"Kita berharap bahwa IOGI ini bisa menjadi center of excellence and knowledge untuk Indonesia upstream oil and gas," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam Launching IOGI, Selasa (30/4/2019).


Salah satu produk atau temuan terbarunya adalah tentang pembaruan data pertama kali semenjak 36 tahun terkait industri migas.

"Setelah lebih dari 36 tahun kita untuk pertama kalinya kita mengeluarkan update dari total discover seluruh lapangan migas Indonesia," paparnya.

Pada tahun 1979 GES Nayoan dan Atik Sunari menemukan potensi baru migas Indonesia sebesar 50 BBOE (Billion Barrel Equivalent). Kemudian pada tahun 1985 diperbarui lagi sebesar 83 BBOE dari 60 cekungan barel di Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki total discover lapangan migas sebesar 113 BBOE dari 19 cekungan, dan lebih dari 818 lapangan, serta 126 proven plays.

Nantinya, IOGI diharapkan dapaf berkontribusi secara konkrit bukan hanya melalui analisa yet to find, tetapi juga melalui Yearly Indonesia Upstream Oil and Gas Outlook, publikasi berkala setiap semester, focus group discussion, dan benchmarking tools yang dapat diberikan kepada investor-investor atau pemangku kepentingan di industri migas.


Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meresmikan lembaga insititusi yang bergerak untuk mendukung industri oil dan gas di Indonesia, Indonesia Oil and Gas Institute (IOGI).

Nantinya, IOGI akan bergerak sebagai lembaga resmi dari SKK Migas dalam menerbitkan data-data terbaru yang mendukung kinerja industri migas. Selain itu juga sebagai perencanaan dan strategi jangka panjang untuk cadangan hidrokarbon, lifting, serta optimasi biaya operasi.

"Kita berharap bahwa IOGI ini bisa menjadi center of excellence and knowledge untuk Indonesia upstream oil and gas," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam Launching IOGI, Selasa (30/4/2019).

Salah satu produk atau temuan terbarunya adalah tentang pembaruan data pertama kali semenjak 36 tahun terkait industri migas.

"Setelah lebih dari 36 tahun kita untuk pertama kalinya kita mengeluarkan update dari total discover seluruh lapangan migas Indonesia," paparnya.

Pada tahun 1979 GES Nayoan dan Atik Sunari menemukan potensi baru migas Indonesia sebesar 50 BBOE (Billion Barrel Equivalent). Kemudian pada tahun 1985 diperbarui lagi sebesar 83 BBOE dari 60 cekungan barel di Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki total discover lapangan migas sebesar 113 BBOE dari 19 cekungan, dan lebih dari 818 lapangan, serta 126 proven plays.

Nantinya, IOGI diharapkan dapat berkontribusi secara konkrit bukan hanya melalui analisa yet to find, tetapi juga melalui Yearly Indonesia Upstream Oil and Gas Outlook, publikasi berkala setiap semester, focus group discussion, dan benchmarking tools yang dapat diberikan kepada investor-investor atau pemangku kepentingan di industri migas. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed