Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 02 Mei 2019 20:02 WIB

Pengusaha Rem Ekspor Biodiesel karena Kebijakan Uni Eropa

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Istimewa/Kementerian Pertanian Foto: Istimewa/Kementerian Pertanian
Jakarta - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menargetkan ekspor biodiesel sebesar 1,2 juta kiloliter (kl) di tahun ini. Angka ini lebih rendah dari realisasi ekspor tahun lalu sebesar 1,7 juta kl.

Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan pada dasarnya juga menargetkan ekspor sebesar 2 juta kl. Hanya saja, ada kendala yang tengah terjadi di industri kelapa sawit, khususnya ekspor sehingga target bisa menurun.

"Titik pesimis 1,2 hingga 1,3 juta kl. Tapi ada juga titik optimis masih bisa 2 juta kl (ekspor)," kata dia dalam temu media di kantor Aprobi di Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2019).


Lebih lanjut, ia memaparkan kendala-kendala yang dimaksud adalah tuduhan Uni Eropa bahwa industri kelapa sawit Indonesia diberiikan subsidi oleh pemerintah. Bila tuduhan tersebut dibenarkan maka Indonesia bisa kehilangan pasar.

Sebab, bila tuduhan dibenarkan akan ada pengenaan sanksi berupa bea masuk yang tinggi mencapai 22%. Alhasil, pengusaha akan memilih tak mengekspor sehingga nilai ekspor bisa berkurang.

"Nanti kita lihat Eropa gimana nih. Kalau mereka tiba-tiba jatuh sanksi subsidi dengan bea masuk yang besar tentu akan drop. Karena ekspor kan besar " jelas dia.


Sementara itu, untuk mengatasi masalah tersebut beberapa produsen dan pemerintah telah melakukan verifikasi dengan mengisi questionnaire atau pengumpulan data yang disediakan oleh Eropa. Hanya saja, hasilnya hingga saat ini belum keluar.

"Kami dan pemerintah Indonesia menunggu kesimpulan dari verifikasi tersebut," tutup dia. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed