Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 21 Mei 2019 15:24 WIB

Pemerintah Putar Otak Tangani Limbah Smelter

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Sitti Harlina/detikcom Foto: Sitti Harlina/detikcom
Jakarta - Pemerintah tengah memutar otak untuk mengolah limbah (slag) yang berasal dari pabrik pemurnian atau smelter. Sebab, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi salah satunya untuk tambang.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, saat ini pemerintah sedang mencari strategi agar hilirisasi ini bisa berjalan.

"Tadi itu membahas gimana kita men-treatment slag dari smelter. Dari semua smelter sehingga hilirisasi bisa berjalan itu saja intinya," katanya usai rapat koodirnasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Selasa (21/5/2019).


Arcandra belum memaparkan secara rinci langkah apa yang akan ditempuh. Sebab, akan ada pembahasan lanjutan setelah ini.

"Kita akan meeting kembali, KLHK, Perindustrian, ESDM, BUMN, Perekonomian kita akan meeting kembali membahas rekomendasinya seperti apa," ujarnya.

Dia mengatakan, slag ini sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi beragam produk.

"Kalau pemanfataannya ada di BUMN, ada buat batako, jalan, beton ya. Ada pabrik semen, macam-macam," ujarnya.

Pada kesempatan sama, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menjelaskan, rapat ini mengkoordinasikan lintas kementerian untuk menangani limbah smelter.

"Kan pemerintah mendorong untuk membangun smelter-smelter baru, nah kemudian salah satu masalahnya pemanfaatan slag atau sisa dari proses smelter," ujarnya.


Dia mengatakan, limbah ini tidak boleh dibuang karena masuk kategori limbah berbahaya. Untuk penangannya, saat ini limbah ditumpuk setelah mendapat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

"Harus ditumpuk, atau ditreatmen sebagai B3 (bahan berbaya beracun) dapat izin pemanfaatan KLHK," ujarnya.

"Sekarang yang diperintahkan tadi Pak Menko, ditempatnya Bu Vivien di KLHK satu minggu ini mencarikan jalan bagaimana mempercepat, ada dua hal, satu mengenai perizinannya kedua mengenai pemanfaatan untuk produk samping," tutupnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed