Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira naiknya harga BBM memberi dampak cukup besar terhadap perekonomian karena angka inflasi yang tinggi.
Kalau inflasi tinggi maka daya beli masyarakat yang akan terpukul. Khususnya masyarakat kelas bawah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak sampai di situ, angka inflasi juga naik karena kenaikan harga BBM merembet ke harga pangan. Bhima menegaskan bahwa hal tersebut dapat menghambat konsumsi rumah tangga, sehingga pertumbuhan ekonomi bertahan di angka 5%.
"Kenaikan harga BBM juga merembet pada kenaikan harga pangan lainnya. Ujungnya kalau konsumsi rumah tangga terhambat, ekonomi akan mangkrak di 5%," kata Bhima.
Tidak berbeda, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan bahwa kalau BBM naik bisa saja target asumsi inflasi dan pertumbuhan ekonomi pemerintah tidak akan tercapai.
Pemerintah sendiri menargetkan nilai inflasi akan berada di angka 3,5% plus minus 1. Lalu untuk pertumbuhan ekonominya sebesar 5,3% di tahun 2019 ini.
"Konsekuensinya kalau naik BBM sekarang, ya target inflasi bisa nggak tercapai, bukan cuma itu, target pertumbuhan ekonomi juga nggak tercapai," kata Josua kepada detikFinance.
Josua menambahkan bahwa dampak kenaikan BBM memicu inflasi, kalau inflasi naik maka pertumbuhan ekonomi pun melambat. Pasalnya, daya beli masyarakat turun.
"Karena pasti naiknya BBM itu picu inflasi, kalau inflasi naik maka sektor riil dan pertumbuhan ekonominya bisa melambat, karena daya beli masyarakat juga akan turun," tutur Josua.
Tonton juga video Kerjasama Segi Tiga Emas, Indonesia-Thailand-Malaysia:
(fdl/fdl)












































