Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 05 Agu 2019 16:27 WIB

Keluar dari Istana, Jonan-Luhut Kompak Bungkam soal Listrik Padam

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Uji Medianti Sukma Foto: Uji Medianti Sukma
Jakarta - Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan kompak tidak memberikan komentar terhadap pemadaman listrik secara massal untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali.

Padahal, mereka berdua terlihat jalan berdua usai sidang kabinet paripurna (SKP) tentang rancangan undang-undang (RUU) beserta nota keuangan RAPBN Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta Pusat.

Ketika dimintai komentar mengenai solusi dan arahan mitigasi apa yang harus dilakukan PT PLN (Persero) terhadap kejadian pemadaman listrik kemarin. Pantauan detikFinance, Senin (5/8/2019), Jonan dan Luhut malah serius mengobrol. Bahkan, Jonan hanya melambaikan tangan yang mengisyaratkan tidak ingin memberikan komentar.

Keduanya pun semakin jalan kencang menuju mobil dinasnya masing-masing meskipun para awak media sudah banyak yang menghampiri dan menghalangi jalannya untuk menanyakan kejadian pemadaman listrik.

Luhut pun hanya menyerahkan urusan tersebut kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan yang memimpin Kementerian ESDM di bawah komando Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

"Tanya ke Pak Jonan," singkat Luhut.


Sesekali ajudan Jonan pun meminta para awak media untuk memberikan jalan bos besarnya. Namun, hingga keduanya masuk mobil dinasnya tidak ada penjelasan sedikit pun mengenai pemadaman listrik massal.

Sebelumnya, padamnya listrik secara massal membuat Jokowi heran. Sebab, perusahaan sekelas PLN tidak memiliki manajemen mitigasi yang baik.

"Pertanyaan saya bapak ibu semuanya ini kan orang pintar-pintar. apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkukasi kalau akan ada kejadian-kejadian, sehingga kita tahu sebelumnya," kata Jokowi di kantor pusat PLN, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019).

Selain itu, pemadaman listrik secara massal juga menyebabkan kerugian besar bagi pengusaha ritel. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey memperkirakan potensi kerugian sekitar Rp 200 miliar.

"Bisa dihitung lebih dari Rp 200 miliar untuk potensi kerugian akibat tidak adanya transaksi di toko-toko ritel modern dengan padamnya listrik ini," tutur Roy kepada detikFinance, Senin (5/8/2019).

Roy menjelaskan di Jakarta ada 82 mal terimbas pemadaman masal. Kalkulasi Roy, tak ada pasokan listrik berjam-jam kemarin, satu mal dapat kehilangan 10.000 pengunjung. Dari angka tersebut, apabila satu orang menghabiskan uangnya sekitar Rp 200.000, dikalikan 10.000 orang maka satu mal rugi hingga Rp 2 miliar. Oleh karena itu, bila dikalikan dengan 82 mal, maka potensi mal-mal di Jakarta kehilangan pendapatannya sekitar Rp 160 miliar.



Simak Video "KRL Mati, Penumpang di Stasiun Bojong Indah Terbengkalai"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com