Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 17 Sep 2019 11:55 WIB

Ladang Minyak Arab Diserang Drone, Bakal Berimbas ke Harga BBM RI?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Ladang minyak Saudi Aramco di Arab Saudi diserang pesawat tanpa awak pemberontak Houthi Yaman, Sabtu lalu (14/9/2019). Dua titik lokasi menjadi target serangan yakni Fasilitas Khurais yang merupakan ladang minyak utama milik Saudi Aramco dan Fasilitas Abqaiq yang merupakan lokasi pabrik pengolahan minyak terbesar milik Saudi Aramco.

Dengan serangan tersebut, Kerajaan Arab memangkas produksi minyaknya sampai 5,7 juta barel per hari. Lalu, apakah hal tersebut berpengaruh ke harga bahan bakar minyak (BBM) Indonesia?

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto menjelaskan, harga minyak dunia Brent hari ini sekitar US$ 67 per barel. Kemudian, dia bilang, harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) lebih rendah dari Brent sebanyak US$ 5.


Dengan kondisi itu, maka ICP masih dalam perhitungan pemerintah.

"Kalau ICP kan dikurangi US$ 5 dari Brent. US$ 67 kurangi US$5, US$ 62 kemarin kita tetapin US$ 63 loh di 2020, masih OK ko," ujarnya di Kementerian ESDM Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Dia mengatakan, harga bahan bakar yang tidak diatur pemerintah juga belum mengalami penyesuaian. Djoko menuturkan, belum ada badan usaha yang mengajukan kenaikkan harga.

"Belum, belum, masih aman mudah-mudahan kembali normal. Kita kan kemarin diketok US$ 63 sekitar itu lah," terangnya.

Lebih lanjut, dia memaparkan, Indonesia memang mengimpor 110 ribu barel per hari dari Arab. Kemudian, dia menjelaskan, Arab sendiri memproduksi 13,6 juta barel per hari.

Dengan adanya serangan tersebut, produksi minyak Arab turun menjadi 7,9 juta barel per hari karena berkurang 5,7 juta barel per hari.

"Kita kan memang impor dari sana kan 110 ribu rata-rata per hari. Kan kapal tidak per hari dikumpulin dulu. Itu yang terganggu 5,7 juta barel per hari kan, sementara produksi Arab Saudi itu kan 13,6 juta, jadi masih ada 7,9 juta," katanya.


Dia menuturkan, Indonesia hanya memasok sedikit dari Arab. Menurutnya, serangan itu tak mengganggu pasokan minyak Indonesia.

"Ya kita cuma 0,11 juta barel, masih aman," tambahnya.

Dia juga meyakini, Arab tetap berkomitmen terhadap ekspornya. Di samping itu, pemerintah juga telah mengantisipasi pasokan minyak melalui pembelian minyak dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang berproduksi dalam negeri

"Tapi (Arab) yang sudah komitmen dengan negara lain yang diekspor harusnya enggak ada masalah ya. Yang 5,7 kan memang untuk kilang yang kebakar, tapi untuk kita kan tidak dari situ. Tapi, kita untuk antisipasi kita juga bisa membeli bagian KKKS yang ada di sini," jelasnya.

Simak Video "Dua Kapal Tanker Saudi Disabotase"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com