Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 11 Okt 2019 19:24 WIB

Potensi Cadangan 7,5 Miliar Barel, Industri Minyak RI Belum Mati?

Achmad Dwi Afriya - detikFinance
Foto: Dok. Pertamina Foto: Dok. Pertamina
Jakarta - Indonesia menghadapi tantangan besar di industri migas, khususnya minyak. Sebab, produksi minyak Tanah Air mengalami penurunan secara natural lantaran sejumlah sumur sudah tua.

Di sisi lain, target produksi terus naik. Pemerintah pun harus putar otak agar penurunan bisa ditahan kemudian produksi minyak terus meningkat.

Lantas, bagaimana masa depan industri minyak Indonesia?

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi ( SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, Indonesia sebenarnya masih punya potensi cadangan minyak yang besar. Jelasnya, Indonesia punya 128 cekungan migas. Dari 128 itu, baru 54 cekungan yang dieksplorasi.

"Dari 54 ini baru 18 yang berstatus production," kata Dwi dalam acara Sarasehan Migas Nasional ke-2 di kantornya, Jakarta, Kamis lalu (10/10/2019).

Lanjutnya, cadangan minyak Indonesia saat ini tercatat 3,8 miliar barel. Kemudian, dari sisa cekungan yang belum dieksplorasi yakni sebanyak 74 cekungan menyimpan potensi minyak 7,5 miliar barel.

"Cadangan 3,8 miliar barrel, dari 74 yang belum tersentuh potensi minyak buminya 7,5 miliar barel. Jadi masih ada di dalam sana sebuah potensi sangat besar," ungkapnya.



Dwi melanjutkan, produksi minyak Indonesia ditargetkan 1 juta barel per hari di 2030. Maka itu, perlu sejumlah strategi untuk menggenjot produksi minyak.

Strategi pertama yang bakal diterapkan, pertama, menjaga penurunan produksi sebanyak 20% secara natural. Caranya, dengan mendorong berjalannya proyek berjalan tepat waktu. Dia pun mencontohkan proyek kilang gas alam cair Tangguh 3 yang molor sampai setahun.

"Kami melihat sangat besar kondisi lalu, proyek-proyek yang ada itu terlambat cukup panjang, kalau pengendaliannya lebih baik dalam hal operasi eksisting itu keterlambatan itu nggak bisa terlalu panjang. Contoh Tangguh 3 yang terpaksa delay 1 tahun. Saya kira tidak boleh terjadi dalam proyek 3-4 tahun tapi terlambat satu tahun. Sudah 30% kerugian pasti meningkatkan biaya investasinya dan larinya coat recovery," paparnya.

Kedua, mempercepat produksi di mana di dalamnya juga mengoptimalkan proses perizinan. Dwi bilang, koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait terus dilakukan.

Ketiga, SKK mendorong pemanfaatan teknologi enhanced oil recovery (EOR) yakni metode yang digunakan untuk mengangkat cadangan minyak pada suatu sumur yang selama ini tidak diproduksi. Dengan EOR dan berbagai strategi lainnya diharapkan produksi minyak tembus 1 juta barel per hari di 2030.

"Ketiga pemanfaatan EOR. Kami terus mendorong upaya implementasi EOR, gambarannya 2020 yang speed up sudah harus berpengaruh percepatan menambahkan. Kalau decline sudah kita hindari, perkecil. Dan kami harap memang sudah sama saling tahu bahwa di 2023. Bahwa target 1 juta 2030-2033 kita bisa ke sana. Jadi EOR bisa pengaruh 2023," ungkapnya.



Kemudian ialah mendorong eksplorasi itu sendiri. Dwi mengatakan, dengan skema yang ada saat ini sudah ada US$ 2,4 miliar dana tersedia untuk pengembangan cadangan.

"Terakhir adalah eksplorasi. Itu kami punya harapan, karena sekarang ada komitmen cadangan pengembangan US$ 2,4 miliar yang di-spend untuk pengembangan dan saya kira ini sudah di atas Rp 30 triliun untuk mengaktifkan kegiatan eksplorasi ke depan," tutupnya.

Potensi Cadangan 7,5 Miliar Barel, Industri Minyak RI Belum Mati?


Simak Video "Jaringan Gas Tekan Impor LPG Hingga Rp 216 M dalam Setahun"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com