Hadirnya Listrik PLN Buat Wajah Perbatasan Semakin Bersinar

Chaidir Anwar Tanjung - detikFinance
Selasa, 29 Okt 2019 09:10 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Natuna - Natuna, KehadiranPLN di KabupatenNatuna Provinsi Kepri mampumenumbuhkembangkan perekonomian masyarakat setempat. Dalam kurun waktu 4 tahun, hampir 100 persen desa di kabupaten penghasil ikan itu kini sudahteraliri listrik.

Kabupaten Natuna memiliki 15 kecamatan dengan 76 desa dan kelurahan. Di wilayah ini terdiri dari berbagai pulau-pulau kecil di wilayah tapal batas Indonesia bagian Barat yang letaknya di laut China Selatan atau Natuna Utara.

Kecamatan Pulau Tiga Barat, salah satu di antaranya yang paling anyar menikmati listrik PLN. Pada tahun 2018, jaringan listrik di kecamatan ini sudah terbangun dengan baik. Masyarakat yang dulunya hanya mengandalkan mesin genset di setiap rumah tangga, kini bisa menikmati 'setrum' PLN yang biayanya jauh lebih murah.

Di sana, PLN Wilayah Riau-Kepri di bawah tampuk pimpinan Irwansyah Putra telah menempatkan 3 pembangkit PLTD di Pulau Tanjung Kumbik 3 x 500 MW atau setara 1.500 MW. Pada Februari 2018 lalu, pertama kalinya listrik menyala di pulau tersebut.

Sungguh ini dianggap sebuah momentum bersejarah bagi masyarakat di sana. Bertahun-tahun lamanya masyarakat di sana menggantungkan listrik dari mesin diesel sendiri. Dana yang dibutuhkan untuk listrik rumah tangga dirasakan sangat berat sekali. Biaya kebutuhan listrik rumah tangga dengan hanya bermodalkan mesin genset sendiri dengan waktu hidup hanya sekitar 6 jam saja minimal harus mengeluarkan kocek Rp 600 ribu per bulannya.

"Sekarang dengan masuknya listrik PLN, hal ini meringankan beban masyarakat untuk bayar listrik. Biaya yang dikeluarkan untuk membayar tagihan listrik ke PLN jau lebih murah," kata Sekretaris Camat (Sekcam) Pulau Tiga Barat, Junaidi kepada tim Tapal Batas detikcom yang mengunjungi wilayah tersebut akhir September lalu.

Masyarakat kini tak lagi memikirkan cara membeli BBM untuk kebutuhan listrik mereka. Dulunya, warga merasa tidak diperhatikan pemerintah karena tidak adanya jaringan listrik di kecamatan tersebut. Padahal, daerah mereka adalah wilayah penghasil ikan dengan keindahan pulaunya yang berbukit sehingga sering dikunjungi kapal pesiar dari luar negeri.

Warga di sana juga kadang bertanya, apakah mereka sebenarnya masih wilayah Indonesia atau tidak. Perasaan itu timbul, karena sebelumnya mereka tidak bisa menikmati listrik PLN sebagaimana umumnya masyarakat lain.

"Dulu kita di sini sempat bertanya, apakah kita ini masih wilayah Indonesia apa tidak. Ini karena kita tidak memiliki infrastruktur jaringan kelistrikan dari PLN. Alhamdulillah, dua tahun ini kami sudah menikmati listrik PLN," ucap Junaidi.

Hadirnya Listrik PLN Buat Wajah Perbatasan Semakin Bersinar Foto: Agung Pambudhy

Walau mereka sudah menikmati listrik PLN, namun tetap ada keluhan yang paling mendasar. Keluhannya adalah, listrik yang dialiri PLN belum bisa menyala selama 24 jam. Listrik saat ini hanya bisa dinikmati selama 14 jam yang menyala sejak sore hingga pagi hari.

Satu sisi, kecamatan tetangga kondisi listriknya sudah menyala selama 24 jam. Adanya perbedaan ini juga membuat masyarakat ingin segera menikmati listrik selama 24 jam.

"Saat ini baru 14 jam menyala. Kami berharap, kiranya PLN segera mengaliri listrik selama 24 jam," kata Junaidi.

Sebenarnya, kapasitas PLTD yang dibangun di Kecamatan Pulau Tiga Barat ini suda melebihi dari kebutuhan masyarakat. Hanya saja PLN mengharapkan adanya investor di kawasan ini untuk membangun cool storage atau biasa disebut tempat pendinginan ikan. Diharapkan dengan adanya investor yang membangun tempat penyimpanan ikan tersebut, sehingga daya listrik yang sudah ada bisa tersalurkan.

"Ibarat sebuah kendaraan, PLTD kita ini seperti truk besar, tapi penumpang sedikit. Begitulah gambarannya, mengapa kita baru menyalakan 14 jam. Kalau nanti ada investor yang membangun cool storage, kita akan segera menyalakan 24 jam," kata Vice President Publik Relation PLN, Dwi Suryo Abdullah.

Hadirnya Listrik PLN Buat Wajah Perbatasan Semakin Bersinar Dwi Suryo/Foto: Agung Pambudhy

Geliat ekonomi tumbuh di Kabupaten Natuna dirasakan sejak tahun 2015. Ini rasakan setelah PLN menambah pasokan listrik bertenaga diesel sebesar 9.500 killo Watt di tiga lokasi, yaitu Ranai, selaku ibu kota Kabupaten Natuna, sebesar 4.000 kilowatt. Selanjutnya di Pian Tengah dan Klarik pada tahun 2018 dengan kapasitas masing-masing 5.000 dan 500 kilowatt.

Tumbuhnya perekonomian di Natuna seiring daya listrik yang telah per pasang, dirasakan sejak munculnya perusahaan cool storage yang akan menyimpan ikan hasil tangkapan nelayan.

"Sejak tahun 2015 hingga sekarang ada 7 perusahaan cool storage yang dibangun menjadi pelanggan PLN. Dari jumlah itu, pelanggan tersebut mempunyai daya terpasang sebesar 2.938,5 kVA," kata Dwi Suryo.

PLN juga berhasil membangun ketiga pembangkit dalam satu sistem interkoneksitas 20 kV di Natuna. Selain itu menambahkan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) hingga menjadi 320 kms.

"Tinggal 40 persen kms lagi akan membentuk jaringan tertutup (Loop), PLN optimis seiring penyelesaian infrastruktur jalan yang sedang dibangun maka untuk mewujudkan sistem kelistrikan yang tertutup akan segera terwujud," kata Dwi.

Peningkatan infrastruktur ini dilakukan untuk memberikan kepastian kepada investor untuk tidak ragu akan kebutuhan listrik di Natuna. Sekalipun wilayah Natuna secara geografis letaknya jauh dari di wilayah perbatasan.

"Kondisi ini tidak menyurutkan PLN dalam membangun kelistrikan di wilayah terdepan, terluar dan terpencil," kata Dwi.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!






Simak Video "PLN Bangun Ekosistem Digital untuk Penggunaan Mobil Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)