Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 13 Nov 2019 16:56 WIB

Warga Pesisir Perbatasan Rindu Listrik

Hendra Kusuma - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Hendra Kusuma Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Selama lima tahun belakangan ini Pemerintah telah mempercepat pembangunan di segala lini, baik infrastruktur dasar maupun berat. Pembangunan yang bisa dirasakan adalah pembangunan infrastruktur jalan dan ketenagalistrikan.

Khusus infrastruktur ketenagalistrikan pemerintah menggagas program 35.000 Mw dengan tujuan seluruh penjuru tanah air merdeka dari kegelapan. Terkhusus untuk wilayah perbatasan atau pulau terluar yang menjadi garda terdepan Indonesia.

Presiden Jokowi pada periode pertama memutuskan untuk memprioritaskan pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau dikenal dengan istilah 3T. Meski sudah banyak prioritas pembangunan yang dilakukan namun wilayah perbatasan masih menyimpan segudang permasalahan.

Seperti di Kabupaten Tanjung Balai Karimun (TBK), Provinsi Kepri, daerah yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia ini sejatinya sudah teraliri listrik oleh PT PLN (Persero). Hanya saja, ada keputusan Kementerian ESDM atas rekomendasi pemerintah daerah yang menyebabkan sebagian warganya belum merdeka dari kegelapan.

Keputusan tersebut berupa zonasi usaha. Di mana ada tiga zona usaha di Kabupaten TBK, PLN berada di zona 3, sedangkan zona 1 dan 2 menjadi tanggung jawab swasta. Zona 1 menjadi tanggung jawab PT Soma Daya Utama (SDU) dan zona 2 tanggung jawa PT Karimun Power Plant (KPP).

detikcom pun berkesempatan mendatangi wilayah zona 1 yang menjadi tanggung jawa PT Soma Daya Utama. Salah satu pusat perekonomian di sana adalah industri besar, salah satu perusahaan yang beroperasi di sana adalah PT Saipem Indonesia Karimun. Untuk ekonomi masyarakat, banyak warga yang mencari nafkah di Pantai Pelawan yang menjadi destinasi unggulan di TBK.

Salah satu warga yang bergantung hidup dari wisata Pantai Pelawan adalah Ratna, wanita berusia 39 tahun ini meneruskan usaha orang tuanya yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Dia menceritakan, sejak kecil hingga saat ini kebutuhan listriknya terpenuhi oleh mesin diesel yang dibeli bersamaan dengan warga lainnya. Dia pun mengaku sangat ingin menikmati listrik selama 24 jam tanpa harus mengeluarkan banyak ongkos.

"Dari dulu kami hanya pakai lampu minyak, dari kemarin saya selalu ditanyakan (pengunjung) kapan listrik masuk," kata Ratna beberapa waktu lalu kepada detikcom.

Listrik yang dinikmati Ratna hingga saat ini berasal dari mesin diesel, itu pun pengoperasiannya terbatas mulai dari sore hari hingga pertengahan malam. Bahkan, listrik yang mengaliri rumah sekaligus warung pinggir pantainya ini hanya cukup untuk beberapa lampu dan tidak bisa dimanfaatkan banyak barang elektronik.

Dia mengaku belum adanya listrik di siang hari pun mempengaruhi omzet penjualan. Sebab, banyak pengunjung yang datang ingin mengisi daya baterai telepon genggamnya yang sudah habis akan tetapi tidak bisa terlayani.


(hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com