Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 15 Nov 2019 13:40 WIB

Tapal Batas

Perbatasan Karimun Punya Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Kayu

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: PLTGB Pulau Kundur (Hendra Kusuma/detikFinance) Foto: PLTGB Pulau Kundur (Hendra Kusuma/detikFinance)
Tanjung Balai Karimun - Wilayah perbatasan Indonesia dengan Singapura dan Malaysia juga memiliki pembangkit listrik tenaga gasifikasi biomass (PLTGB). Pembangkit ini berada di Pulau Kundur, Kabupaten Tanjung Balai Karimun (TBK), Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Manager Unit Pelayanan PT PLN cabang Tanjung Batu, Pulau Kundur, Feriza Syukri mengatakan PLTGB mampu menghasilkan listrik hanya dengan bermodalkan bahan baku kayu kering.

"Awalnya pembangkit ini pakai batu bara, tapi gagal, sekarang beralih ke kayu, kayu apa saja," kata Feriza beberapa waktu lalu kepada detikcom.


Feriza menceritakan, pengoperasian listrik di Pulau Kundur sudah 24 jam setiap harinya. Selain PLTGB, listrik yang masuk ke wilayah UP Tanjung Batu juga berasa dari dua pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

"Dari 3 pembangkit, menghasilkan daya mampu 9,9 Mw, beban puncak di sini sebesar 7 Mw," ujarnya.

PLN cabang Tanjung Batu, kata Feriza memiliki 23.606 pelanggan, di mana paling banyak berasal dari rumah tangga (RT). Sedangkan untuk pelanggan industri dapat dihitung jari, salah satunya adalah PT Timah (Persero).

Feriza mengungkapkan bahwa PLTGB yang beroperasi di Pulau Kundur merupakan milik swasta yakni PT Prima Gasifikasi Indonesia (PGI). Di sini, PLN hanya membeli produk listrik dan mengalirkannya ke para pelanggan. Kapasitas pembangkit tersebut 1,2 Mw.

Sementara itu, Direktur Utama PT PGI Steve Kosasih mengatakan PLTGB sangat cocok di wilayah terpencil atau wilayah perbatasan yang infrastrukturnya masih minim

"Karena bahan bakarnya bisa didapat dari wilayah setempat," kata Kosasih.

Kosasih menceritakan pengoperasian PLTGB di wilayah perbatasan Singapura dan Malaysia juga sampai saat ini melibatkan masyarakat sekitar. Di mana, masyarakat bisa berkontribusi dengan menjual kayu sebagai bahan baku utama.

Menurut dia, kayu yang menjadi bahan baku pembangkit juga tidak menyisakan polusi. Justru memberikan banyak manfaat seperti arang kayu hasil pembakaran dari mesin bisa menjadi pupuk.


Sampai saat ini, dirinya masih mengembangkan tanaman kaliandra merah sebagai bahan baku utama PLTGB Tanjung Batu. Pohon tersebut bisa dipanen dua kali dalam satu tahun. Bahkan, masyarakat sekitar juga bisa ikut menanam dan menjadi mitra sebagai pemasok kayu ke depannya.

"Pembangkit ini kapasitas 1 Mw memerlukan 40 ton kayu kering sebagai bahan bakar. Sementara ini menggunakan kayu dari warga, dari pohon karet, pohon akasia, pohon buah-buahan yang sudah ujur," ungkap dia.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Siswa di Ponorogo Bikin Pembangkit Listrik Bertenaga Bayu"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com