Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 03 Des 2019 18:02 WIB

Kalbar Masih Impor Listrik, BPH Migas Dorong Ketersediaan Gas Bumi

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Pontianak - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmiji mengatakan hingga kini wilayahnya masih membutuhkan pasokan listrik impor dari Serawak, Malaysia. Hal tersebut dilakukan sebab ketenagalistrikan yang ada belum mencukupi kebutuhan listrik yang diperlukan, jika pun ada harganya terbilang mahal.

"Sekarang ini aja kita listrik masih beli dari Malaysia, kemudian industri juga membeli dari PLN itu mahal, sehingga tidak kompetitif," ungkapnya saat ditemui detikcom di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) bertema Sinergitas Pembangunan Pipa Gas Bumi Trans Kalimantan di Grand Mahkota Hotel Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/12/2019).

Dia berharap adanya rencana pengembangan pipa gas bumi di Trans Kalimantan dapat memberikan manfaat yang siginifikan pada wilayahnya termasuk dalam menerangi ekonomi masyarakat sekitar. Sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional yang baik yang ditunjang oleh infrastruktur energi tersebut.


"Saya mau lebih cepat, tahun depan mulai harusnya lebih baik. Saya berharap kita mendapatkan listrik yang murah. Bahan sumber daya kita bisa diolah jadi bahan setengah jadi atau bahan jadi kalau perlu. Itu akan meningkatkan daya tambah, mengungkit lapangan kerja dan pendapatan masyarakat juga makin tinggi. Kemudian kita mendapatkan bagi hasil pajak besar untuk membangun infrastruktur daerah ini," jelasnya.

Dia berharap jika pipa gas bumi ini untuk menunjang energi dalam hal investasi. Maka Kalbar nantinya akan menjadi daerah yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi di Kalimantan.

Sementara itu, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa mengatakan pihaknya akan terus mendorong terwujudnya pembangunan pipa Trans Kalimantan untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri khususnya bagi seluruh masyarakat di Pulau Kalimantan.

"Hal ini sekaligus ikut membantu mengurangi defisit perdagangan melalui peningkatan pemanfaatan gas bumi sebagai substitusi bahan bakar minyak terutama pada sektor kelistrikan dan pertambangan," ucap Ifan sapaan akrabnya.

Berdasarkan Neraca Gas Bumi Indonesia 2018-2027, diketahui potensi pengembangan sumber gas wilayah Kalimantan masih amat besar. Pasokan gas bumi di wilayah Kalimantan pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 2.075,35-2.609,49 MMSCFD yang terdiri dari existing 1.388,09 MMSCFD, project on going 26,91 MMSCFD dan 2 project hulu yang akan first gas in dari IDD dan ENI sebesar 1.218,20 MMSCFD.

"Tetapi hal tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal khususnya di wilayah Kalimantan untuk penggunaan transportasi, rumah tangga dan pelanggan kecil, lifting minyak, industri pupuk, industri berbasis gas bumi, pembangkit listrik dan industri berbahan bakar gas," jelasnya.


Ia menilai adanya rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan serta Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kawasan industri (KI) dinilai efektif untuk meningkatkan penyerapan gas di wilayah ini. Nantinya di Kalimantan juga akan dibangun jaringan distribusi termasuk jaringan gas (jargas).

Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Bappenas sedang melakukan pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 yang akan menjadi acuan pembangunan nasional selama lima tahun ke depan, di mana salah satu major project yang diusulkan akan dibangun adalah Ruas Pipa Transmisi Gas Bumi Trans Kalimantan.

Dengan pembangunan infrastruktur energi dalam hal ini infrastruktur gas bumi di Kalimantan diharapkan dapat mengambil manfaat untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan.

Simak Video "Jaringan Gas Tekan Impor LPG Hingga Rp 216 M dalam Setahun"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com