Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 20 Jan 2020 18:59 WIB

Limbah Karet Bakal Disulap Jadi Bahan Bakar Nabati

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) bakal memanfaatkan karet menjadi bahan bakar nabati. Hal itu dilakukan untuk mendukung industri berbasis karet alam. Untuk merealisasikan itu diperlukan dukungan pemerintah.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Johnny Darmawan menjelaskan bahwa industri karet sejauh ini hanya memanfaatkan latex yang dihasilkan dari tanaman karet. Sementara bijinya hanya menjadi limbah. Padahal itu bisa diolah menjadi bahan bakar.

"Biji karet masih belum dimanfaatkan dan dibuang sebagai limbah padahal dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar nabati yang potensial untuk di kembangkan secara teknis maupun keekonomiannya," kata dia di Menara Kadin Indonesia yang dikutip Senin (20/1/2020).


Dari data yang dipaparkannya, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia dengan total produksi pada 2019 mencapai 3,55 juta ton, dan luas seluruh area perkebunan karet di Indonesia mencapai 3,4 juta hektar.

Dia menjelaskan produksi karet nasional (lateks) dalam 5 tahun terakhir cukup besar, yaitu di atas 3,3 juta ton, sedangkan untuk harga karet dalam 5 tahun terakhir terus mengalami tekanan pada level yang dinilai tidak remunerative bagi produsen. Selain itu, daya serap karet (lateks) untuk industri ban hanya 70% dari konsumsi karet alam nasional.

Atas dasar itu harus dicarikan solusi karena petani mengalami kesulitan dalam menjual maupun meningkatkan harga karet.

"Agar petani tidak tambah rugi maka harus ada upaya lain untuk meningkatkan ketahanan para petani melalui pemanfaatan karet dan biji karet sebagai bahan baku bahan bakar nabati selain kelapa sawit," jelasnya.


Dia menilai perlu dukungan dan kerja sama dari pemerintah, yaitu terkait konsistensi terhadap kebijakan hilirisasi hasil perkebunan khususnya karet menjadi produk yang bernilai tambah, di antaranya pengembangan bahan bakar nabati berbasis karet dan pemanfaatannya di dalam negeri sebagai bahan bauran energi yang berdaya saing.

Ketua APBI Aziz Pane mengatakan, karet termasuk tanaman perkebunan non pangan yang saat ini produksinya sudah surplus. Sayangnya tidak semua terserap oleh pasar. Karet juga termasuk dalam kategori tanaman bioenergi multiguna yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku bahan bakar nabati.

Lebih lanjut, potensi pemanfaatan karet di luar industri ban semakin terbuka lebar setelah terbitnya beberapa kebijakan terkait penggunaan energi alternatif pengganti BBM untuk jenis diesel/solar. Biodiesel dapat diaplikasikan baik dalam bentuk 100% (B100) atau campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu seperti B20. Pemanfaatan biji karet sebagai biodiesel sangat terbuka lebar.

Kandungan minyak di dalam daging biji karet mencapai 45.63%. Tanaman karet dapat menghasilkan 800 biji karet untuk setiap pohonnya setiap tahun. Pada lahan seluas 1 hektar, dapat ditanami sebanyak 400 pohon karet. Artinya untuk lahan seluas 1 hektar diperkirakan dapat menghasilkan 5.050 kg biji karet per tahun. Rendemen minyak biji karet (kering) yaitu 40-50%, sehingga diperkirakan setiap hektar tanaman karet berpotensi menghasilkan 1.000 liter minyak.

Simak Video "Ironis! Pungut Getah Karet Seharga Rp 17.000, Kakek Dibui 2 Bulan"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
Drooftalk
×
GADUH KERAJAAN GALUH
GADUH KERAJAAN GALUH Selengkapnya