Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 09 Mar 2020 12:47 WIB

Sri Mulyani Kaget Harga Minyak Dunia Anjlok 22%

Hendra Kusuma - detikFinance
Sri Mulyani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mulai pelototi pergerakan harga minyak dunia yang anjlok sekitar 22%. Pasalnya, penurunan ini memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional, salah satunya penerimaan negara.

"Dinamika harga minyak dan pasar minyak dunia, ini juga salah satu hal yang harus kita perhatikan sangat serius. Kegagalan persetujuan antara dua produsen minyak terbesar dunia, antara Saudi dan Rusia untuk mengurangi produksi," kata Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2020).

Harga minyak mentah dunia anjlok 22% ke level US$ 30 per barel. Hal itu dipicu oleh strategi Arab Saudi untuk membanjiri pasar dengan minyak mentah demi merebut kembali pangsa pasar. Pada Minggu malam Arab Saudi mengejutkan pasar dengan meluncurkan perang harga terhadap Rusia.

Sri Mulyani bilang penurunan harga minyak mentah dunia juga karena turunnya permintaan seiring dengan merebaknya virus corona (Covid-19). Dengan begitu, Sri Mulyani mengaku sangat serius memantau pergerakan harga minyak mentah dunia ini. Apalagi penurunan harga ini menjadikan sebuah perang harga antar negara produsen.

"Namun yang mungkin sangat cukup mengagetkan adalah dari Saudi kemudian membuat suatu langkah yang jauh lebih bold, yaitu dengan memberikan discount harga minyak yang lebih dalam lagi, sehingga ini menjadi perang harga," ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan penurunan harga minyak dunia akan berdampak besar bagi pasar keuangan. Penurunan itu menjadi tambahan sentimen negatif bagi investor.

Namun di sisi lain, lanjut Sri Mulyani, penurunan harga minyak menjadi berkah bagi PT Pertamina (Persero) lantaran beban impornya menjadi lebih rendah.

"Tentu akan lihat dari berbagai aspek, kalau selama ini impor minyak kita cukup besar, berarti penurunan harga minyak ini jadi salah satu yang bisa memberikan Pertamina menurunkan beban untuk mengimpornya. Itu saya harap nanti akan terlihat dalam neraca Pertamina," ujarnya.

Mengenai dampak kepada APBN, Sri Mulyani mengaku akan meneliti lebih jauh lagi. Meskipun penerimaan negara menjadi sektor yang paling terdampak.

"Meski sekarang nilai tukar makin mendekat ke nilai asumsi, tapi dari sisi harga dan produksi pasti jauh di bawah APBN. Kita lihat nanti pengaruhnya terhadap APBN dalam setahun ini nanti dan sekaligus untuk membuat proyeksi 2021," ungkapnya.



Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com