Alasan Putin 'Perang Minyak' Lawan Trump cs

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 11 Mar 2020 11:02 WIB
Alat pemompa minyak
Foto: Reuters
Jakarta -

Presiden Rusia Vladimir Putin tahu persis industri minyak Amerika Serikat (AS) dibangun dari utang yang menggunung dan rapuh. Jadi, ketika Arab Saudi meminta pengurangan produksi untuk menahan penurunan harga minyak lantaran kelebihan pasokan, Putin memutuskan untuk melawan.

Pekan lalu Rusia membuat keputusan yang mengejutkan dengan menolak permintaan sekutunya OPEC (organisasi negara produsen minyak). Penolakan Rusia itu diambil dengan tujuan menghantam minyak AS (shale oil) yang selama ini bertahan dari harga yang tinggi.

Tujuan Putin sebenarnya bukan untuk melawan Arab Saudi, melainkan merebut kembali pangsa pasar dari AS. Rusia telah kehilangan gelarnya pada 2018 sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

"Ini adalah respons untuk mencoba melumpuhkan industri shale oil AS," kata Matt Smith, direktur riset komoditas di perusahaan riset energi ClipperData seperti dilansir dari CNN Business, Rabu (11/3/2020).

Harga minyak dunia jatuh pada Senin kemarin setelah Arab Saudi mengatakan akan mengguyur pasokan minyak setelah permintaannya untuk menahan produksi ditolak oleh Rusia. Minyak mentah AS anjlok 26%, ke level terendah dalam empat tahun yakni US$ 31,13 per barel.

Minyak mentah sekarang sangat murah, sehingga banyak perusahaan shale oil AS akan terpaksa memangkas produksi. Kekhawatiran kebangkrutan sudah merayap melalui patch minyak.

Saham perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil (XOM) dan Chevron (CVX), yang bahkan model bisnisnya dibangun untuk tahan terhadap minyak mentah murah, masing-masing sahamnya anjlok 12%. Perusahaan-perusahaan eksplorasi dan produksi musnah, seperti Pioneer Natural Resources (PXD) turun 37% dan hutang-occidental Petroleum (OXY) kehilangan 52%.