Aturan Ini Dinilai Jadi Biang Kerok Harga BBM Belum Turun

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 21 Apr 2020 17:30 WIB
Sejumlah kendaraan mengisi BBM premium, di SPBU Pejompongan, Jakarta, Jumat (16/01/2015). Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turun lagi. Harga Premium diturunkan menjadi Rp 6.600/liter, sementara Solar menjadi Rp 6.400/liter. Harga baru ini berlaku mulai Senin (19/1/2015) pukul 00.00.
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pengamat BUMN yang juga Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menuding Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai penyebab harga bahan bakar minyak (BBM) tak kunjung turun di tengah anjloknya harga minyak dunia.

Padahal menurutnya harga BBM di seluruh dunia sudah turun lebih dari 50%. Tapi di Indonesia tidak mengalami penurunan sedikit pun. Menurutnya itu karena adanya Keputusan Menteri ESDM Nomor 62.K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

"Yang intinya bahwa harga BBM di Indonesia didasarkan pada harga rata-rata produk kilang minyak di Singapura (MOPS - Mean Oil Platts Singapore) dan hanya dapat ditinjau setiap dua bulan, yaitu setiap tanggal 24 pada bulan genap," kata dia melalui keterangan tertulis, Selasa (21/4/2020).

Mengutip situs resmi Kementerian ESDM, aturan tersebut diteken pada 28 Februari 2020 dan berlaku tanggal 1 Maret 2020.

Pada situs tersebut dijelaskan, penetapan aturan tersebut bertujuan untuk menjaga kestabilan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum jenis bensin dan minyak solar, dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 72 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi.

Namun menurut Said Didu, Kepmen tersebut agak aneh karena diterbitkan saat harga minyak mentah dunia mulai turun, lalu peninjauan harga BBM hanya bisa dilakukan setiap 2 bulan, dan menggunakan standar harga produk kilang Singapura (MOPS) alias bukan harga dasar.

"Dengan Kepmen tersebut maka harga BBM di Indonesia tidak lagi terkait langsung dengan penurunan harga minyak mentah dunia, tetapi tergantung berapa harga minyak hasil kilang Singapura," tambahnya.

Klik halaman berikutnya >>>

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Harga Minyak Anjlok, Trump Borong 75 Juta Barel"
[Gambas:Video 20detik]