Perusahaan Migas Diamond Offshore Bangkrut

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 28 Apr 2020 12:05 WIB
Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang
Foto: DW (News)
New York -

Perusahaan minyak asal Amerika Serikat, Diamond Offshore (DO) jatuh bangkrut. Diamond sudah mengalami kerugian parah sebelum anjloknya harga minyak saat ini.

Kerugian yang dialami Diamond telah terjadi selama lima tahun terakhir. Total kerugian diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar setara Rp 18 triliun (kurs Rp 15.300/ dolar US). Pada 2017 laba yang didapat hanya US$ 18 juta (Rp 279 miliar). Tahun lalu kerugian mencapai US$ 357 juta (Rp 5 triliun).

Selain itu, perusahaan juga memiliki utang jangka panjang hampir US$ 2 miliar (Rp 31 triliun) di neraca per 31 Desember, dan US$ 156 juta (Rp 2,4 miliar) dalam bentuk tunai.

"Setelah meninjau dengan cermat alternatif apa saja yang bisa diambil untuk menyelamatkan keuangan kami, keputusan ini (bangkrut) jadi jalan terbaik bagi Diamond dan para pemangku kepentingannya," kata CEO Marc Edwards. Dikutip dari CNN, Selasa (28/4/2020).

"Melalui proses ini, kami bermaksud merestrukturisasi neraca untuk mengatasi utang yang kami miliki, demi memposisikan kembali bisnis jangka panjang," lanjut Edwards.


Sebelumnya, Whiting Petroleum (WLL) lebih dulu menyatakan bangkrut pada 1 April. Whiting puncak kerugiannya mencapai US$ 1,6 miliar (Rp 24 triliun) pada tahun lalu. Sama halnya dengan Diamond, Whiting telah membukukan kerugian bersih dalam lima tahun terakhir.

Harga minyak telah anjlok dalam beberapa bulan terakhir karena penurunan tajam dalam permintaan Pekan lalu, harga minyak berubah negatif karena investor khawatir tidak akan ada cukup ruang untuk menyimpan minyak yang sedang diproduksi. Akibatnya, pengeboran untuk minyak baru terhenti.

Menurut BankruptcyData.com, Diamond dan Whiting adalah dua dari lima perusahaan minyak yang telah menyatakan bangkrut pada bulan ini. Diperkirakan akan ada lebih banyak lagi yang menyusul.



Simak Video "Harga Minyak Dunia Anjlok, Terendah Sejak 11 Tahun Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)