Pertamina Hulu Mahakam Lampaui Target Produksi Migas

Inkana Putri - detikFinance
Rabu, 29 Apr 2020 12:23 WIB
Pertamina
Foto: Dok. Pertamina
Jakarta -

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator Wilayah Kerja (WK) Mahakam dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia selaku induk usaha, tetap melaksanakan operasi memproduksi gas dan minyak meski berada di tengah-tengah pandemi COVID-19 tanpa mengesampingkan aspek keselamatan kerja.

General Manager PHM, John Anis, mengatakan produksi gas dan minyak bumi di WK Mahakam hingga Kuartal 1 2020 tetap baik, dan sejauh ini tidak terdampak oleh pandemi COVID-19.

"Kami tetap berjuang dan berdoa agar wabah yang tengah merebak ini tidak mempengaruhi kinerja produksi PHM di WK Mahakam, namun ke depan hal yang harus kita cermati dan menjadi keprihatinan bersama adalah dampak penurunan harga minyak mentah dunia terhadap permintaan produksi migas kami," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2020).

Hingga akhir Maret 2020 atau Kuartal 1 2020, rata-rata produksi gas WK Mahakam mencapai 658,5 mmscfd (wellhead) atau di atas target teknis Work Program & Budget (WP&B) 2020 590 mmscfd. Sementara itu, produksi likuid (minyak dan kondensat) mencapai 30,34 kbpd, sedikit lebih tinggi daripada target teknis WP&B 2020 yakni 28,43 kbpd. Capaian ini berkat penambahan produksi dari sejumlah sumur baru yang selesai dibor pada 2019 dan telah mulai berproduksi pada awal tahun ini, serta upaya pemeliharaan sumur-sumur yang ada (workover dan well services).

Sementara, dari sisi pendapatan bagi hasil untuk pemerintah adalah US$ 216,58 juta, masih di atas target WP&B 2020 yakni US$ 199,37 juta. Sedangkan, dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja (K3), PHM juga mencatat prestasi yakni mencapai 655 hari kerja atau 56.935.201 manhours pada 31 Maret lalu tanpa Lost Time Injury (LTI) atau tanpa kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan hari kerja.

Sebagaimana diketahui harga minyak mentah dunia telah anjlok hingga mencapai US$ 30 per barel, sebagai akibat dari banjir pasokan di pasar serta lemahnya permintaan global buntut kebijakan lockdown yang diterapkan banyak negara untuk menanggulangi penyebaran COVID-19. John berharap dalam situasi lemahnya permintaan dan harga minyak mentah dunia yang rendah, pemerintah bersedia memberikan bantuan terhadap industri hulu migas demi mengurangi tekanan.

Di tahun 2020 PHM menargetkan akan mengebor 117 sumur tajak dan 2 sumur eksplorasi (South Peciko dan Tunu Deep East). Hingga Kuartal 1 2020, telah ada 31 sumur yang dibor. Banyaknya jumlah sumur yang dibor itu merupakan upaya untuk memaksimalkan cadangan hidrokarbon yang tersedia karena cadangan dan produksi dari sumur-sumur yang ada sudah semakin marjinal.

Selain itu, upaya pengeboran tersebut diharapkan dapat menekan laju penurunan produksi serendah mungkin, hingga di bawah 10%. Sebagai perbandingan, pada 2019 PHM mengebor 127 sumur tajak dari target 118 sumur. Hal itu merupakan buah dari berbagai inovasi untuk mempersingkat durasi pengeboran dan menghemat biaya. Namun, terdapat peluang bila harga minyak mentah tidak membaik juga, maka jumlah sumur tajak yang akan dibor dapat dikoreksi.

Untuk aktivitas workover dan well services, pada 2020, PHM menargetkan 6.028 kegiatan. Sebagai perbandingan, pada 2019 PHM melaksanakan 6.948 pekerjaan pemeliharaan sumur dari target 6.513 pekerjaan. Hal ini juga berkat pengembangan berbagai teknik, seperti penyelesaian sumur tanpa menggunakan rig, yang berhasil menurunkan biaya sewa rig pengeboran.

Sebagai bentuk partisipasi dalam upaya penanggulangan pandemi COVID-19, PHM juga menyalurkan secara bertahap berbagai bantuan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui cabang-cabang Palang Merah Indonesia (PMI) maupun pemerintah daerah setempat. Sepanjang periode 23 Maret-3 April 2020, PHM telah menyalurkan bantuan untuk masyarakat di Kota Balikpapan dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kecamatan Samboja, Muara Jawa, Anggana, dan Muara Badak).

Adapun bantuan dalam bentuk penyemprotan desinfektan, bantuan APD, susu dan vitamin untuk tenaga kesehatan, bahan pangan untuk warga tidak mampu, serta bantuan 1.500 botol hand sanitizer. Jumlah penerima manfaat diperkirakan mencapai 16.000 jiwa.

(prf/ara)