'Demam' Dihajar Corona, Pendapatan Pertamina Anjlok 40%

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 30 Apr 2020 22:15 WIB
PT Pertamina (Persero) mengupayakan pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mencukupi selama ramadan dan masa mudik Lebaran 2014. Saat ini produksi minyak pertamina sebanyak 292.000 barel per hari dan diupayakan terus meningkat. Pada Lebaran 2013, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral konsumsi BBM naik sekitar 14 persen dari kondisi normal.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) mencatatkan adanya penurunan pendapatan antara 38 - 40% akibat diimpit pandemi virus Corona (COVID-19). Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, virus COVID-19 telah menekan permintaan akan bahan bakar minyak (BBM) sehingga kemudian berimbas pula kepada pendapatan perusahaan tersebut.

"Penurunan pendapatan kita 38-40% sebab demand-nya turun luar biasa," ujar Nicke dalam telekonferensi bertajuk Update Kinerja Pertamina, Kamis (30/4/2020).

Di sisi lain, arus kas (cash flow) dari Pertamina juga terganggu. Kondisi saat ini, menurut Nicke sangat tidak normal di mana harga BBM impor jauh lebih murah daripada stok BBM dari dalam negeri. Stok BBM di dalam negeri kini sudah sangat membludak, sampai-sampai ada beberapa daerah yang sudah stok produksi BBM selama lebih kurang dua bulan belakangan ini.

"Kilang kita ada beberapa yang harus dikurangi, produksi di Balikpapan, April ini sudah stop. Dua bulan stop ini digunakan untuk pemeliharaan," terangnya.

Penurunan konsumsi tidak hanya terjadi pada BBM, namun juga pada minyak avtur. Kondisi tersebut memperparah kondisi kilang saat ini.

"Stok juga banyak sekali di kilang kita. Kalau hanya pikir profit, kita matikan semua sumur, kita impor. Apa yang terjadi kalau kita lakukan, ekosistem yang support bisnis kita akan mati," tuturnya.

Kondisi inilah yang membuat Pertamina tidak bisa serta merta menurunkan harga BBM. Hal ini dikarenakan segala keputusan yang dipertimbangkan memiliki risikonya tersendiri yang bukan mudah untuk diatasi. Seperti memilih opsi menutup kilang minyak dan melakukan impor minyak saja dampaknya akan membuat KKKS mati.

"Ini kondisi anomali padahal hampir 70% produksi yang dijual itu adalah dari kilang kita. Ini ada biaya produksinya, makanya kalau mau mudahnya saja, ya sudah matikan semua kilang beli saja BBM yang murah lalu distribusikan, tapi ya mati semua kan, terus yang produk domestik tidak kita beli karena mahal, terus gimana? Produksinya mau dibuang kemana, entar kejadian seperti di AS," pungkasnya.



Simak Video "Sebaran Kasus Baru Covid-19 Hari Ini, Jakarta Terbanyak"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)