PLN Rugi Rp 38,8 T Akibat Gejolak Dolar AS

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2020 15:28 WIB
Laba Bank Mandiri Rp 7,1 Triliun

PT Bank Mandiri Tbk berhasil mencetak laba semester I 2012 sebesar Rp 7,1 triliun pada kuartal II 2012. Angka itu tumbuh 12,69% dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 6,3 triliun. Hal ini dikatakan Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini, saat diskusi bertajuk Menjadi Lembaga Keuangan yang Selalu Progresissive dan Dihargai di ASEAN, di Grand Ballroom Hotel Intercontinental Midplaza, Senin (6/8/2012). Agung Pambudhy/Detikcom 

1. (Kika) Chief Ekonomist Destry Damayanti, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, Direktur Commercial and Business Banking Sunarso dan Vice President Coordinator Change Management Office Ventje Rahadjo saat diskusi. 
 Pertumbuhan laba Bank Mandiri tak lepas dari sokongan anak-anak perusahaannya, seperti Bank Syariah Mandiri, Aksa Mandiri, dan Tunas Mandiri. 
2.  Total laba anak perusahaan membaik, mencapai Rp 936 miliar atau hampir Rp 1 triliun. Pertumbuhan laba hanya dari anak perusahaan mencapai 36,5 persen year on year
3. Laba perseroan juga didorong kinerja positif dalam penyaluran kredit. Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 26,6 persen menjadi Rp 350,4 triliun pada kuartal II 2012.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

PT PLN (Persero) mengungkapkan kerugian sebesar Rp 38,88 triliun pada triwulan I-2020 yang diakibatkan selisih nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada kuartal tersebut, dijelaskan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 16.367 per US$, dibandingkan dengan 31 Desember 2019 sebesar Rp 14.244 per US$.

"Maka berdasarkan PSAK 10, perusahaan berkewajiban untuk mencatat selisih kurs sebesar Rp 51,97 triliun sehingga berdampak pada rugi bersih perusahaan adalah Rp 38,88 triliun. Itu adalah rugi accounting akibat selisih kurs," kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI yang disiarkan secara langsung di situs web DPR RI, Rabu (17/6/2020).

Meskipun demikian, dia menjelaskan pada triwulan 1-2020, perusahaan listrik negara itu masih mampu membukukan laba usaha Rp 6,81 triliun, EBITDA positif Rp 16,93 triliun dan EBITDA margin Rp 19,78 triliun.

Sampai dengan triwulan 1-2020, pihaknya juga membukukan kenaikan volume penjualan listrik sebesar 4,62% atau kenaikan sebesar 2,727 gigawatt hour dibandingkan dengan 59,059 gigawatt pada triwulan I-2019, menjadi 61,785 gigawatt pada triwulan I-2020.

"Dengan kondisi tarif yang tetap, tidak naik, pendapatan masih tumbuh 5,08% atau Rp 3,4 triliun dari Rp 66,85 triliun pada triwulan I-2019 menjadi Rp 70,25 triliun pada tahun berjalan," lanjutnya.

Dia menambahkan, pelanggan masih tumbuh hingga akhir Maret mencapai 76,5 juta, bertambah 3,57 juta dari posisi akhir Maret 2019 sebesar 72,77 juta pelanggan. Rasio elektrifikasi naik dari 98,89% di akhir 2019 menjadi 98,93% di Maret 2020.



Simak Video "Merangkak Naik, Dolar AS ke Level Rp 14.850"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)