Nih Hitung-hitungan PLN Soal Tagihan Listrik Bengkak

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 07:30 WIB
Menyambut lebaran Idul Fitri 1438H, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberi diskon hingga 50 persen untuk penyambungan tambah daya dan baru.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT PLN (Persero) menjelaskan penyebab tingginya tagihan listrik pelanggan pada Juni dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dijelaskan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, hal tersebut karena pada Maret dan April pihaknya tidak melakukan pencatatan kWh meter secara langsung ke rumah pelanggan.

Selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), PLN melakukan perhitungan rata-rata penggunaan kWh dari pemakaian tiga bulan sebelumnya. Baru pada Mei pihaknya menurunkan petugas untuk mencatat tagihan yang harus dibayar Juni.

"Pada tagihan rekening bulan Juni, pada saat PSBB mulai dilonggarkan sebagai upaya pemerintah untuk memulihkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat, PLN telah menggerakkan kembali aktivitas pencatatan meter ke rumah-rumah pelanggan," kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI yang disiarkan secara langsung di situs web DPR RI, Rabu (17/6/2020).

Nah, berdasarkan pencatatan secara langsung di meteran pelanggan pada Mei ternyata konsumsi listrik masyarakat lebih tinggi daripada yang dibayarkan bulan sebelumnya.

Oleh karena itu, selisih yang terjadi antara pemakaian listrik yang lebih tinggi daripada yang dibayarkan bulan sebelumnya, itu ditagihkan di Juni.

"Itu terjadi perbedaan realisasi konsumsi dengan penagihan menggunakan rata-rata 3 bulan. Sebagian besar realisasi lebih besar daripada apa yang ditagihkan. Selisih tersebut kemudian ditagihkan pada bulan Juni saat PLN telah melakukan pencatatan riil, baik melalui petugas catat meter ataupun laporan mandiri pelanggan," ujarnya.

Jadi tidak ada kenaikan tarif listrik atau subsidi silang?

Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2