3 Fakta 'Harta Karun' RI yang Pernah Dibahas Luhut-Prabowo

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2020 05:31 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan komoditas rare earth alias tanah jarang bisa digunakan secara maksimal di Indonesia, salah satunya dalam pembuatan senjata. Rencana ini pun sudah dibicarakan Luhut bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Hal ini dilakukan pada pertemuan di kantor Luhut pertengahan Juni lalu.

"Kemarin saya bicara dengan Menhan (Prabowo) bahas TIN (timah), TIN itu juga bisa kita ekstrak dari situ rare earth," ungkap Luhut dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR, di Gedung DPR RI, Senin (22/6/2020).

Luhut dan Prabowo juga keberatan bila harga rare earth masih ditentukan di Singapura. Padahal keberadaannya bak 'harta karun' dan cukup melimpah di bumi Indonesia.

"Rare earth itu satu masalah dunia yang sangat penting untuk pembuatan senjata. Kenapa harga rare earth mesti ditentukan di Singapura. Kenapa tidak di kita? Singapura udara saja dia impor, kita relakan itu," kata Luhut.

Berikut ini fakta-fakta menarik soal rare earth yang muncul bak 'harta karun'.

1. Mudah Ditemukan di Indonesia

Dari catatan pemberitaan detikcom, pasir timah yang biasa diekspor ilegal dari Bangka Belitung (Babel) mengandung mineral tanah jarang (rare earth). Mineral ini memiliki harga jual tinggi.

Tanah jarang bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," ujar Direktur Utama PT Timah kala itu, Sukrisno saat berbincang dengan detikcom, Minggu (28/6/2015).

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite, yang dikembangkan PT Timah dengan membangun sebuah pabrik kecil pengolahan tanah jarang.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2