3 Fakta 'Harta Karun' RI yang Pernah Dibahas Luhut-Prabowo

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2020 05:31 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Ilustrasi/Foto: Reuters

2. Harganya 12 Kali Lipat dari Timah

Terkait dengan harga, Sukrisno mengatakan, tanah jarang ini harganya lebih mahal dibanding timah. Dia menyebut harganya bisa mencapai 10 sampai 12 kali lebih mahal dibanding timah.

"Harganya itu katanya 10 sampai 12 kali lebih mahal, dan dijualnya per kg," tuturnya.

Sukrisno mengatakan, tanah jarang tersebut bisa dijual per kg, sedangkan pasir timah dijual per metrik ton.

3. Mau Disurvei Tahun Depan

Pemerintah juga makin serius soal pemanfaatan 'harta karun' ini. Badan Geologi Kementerian ESDM akan melakukan survei potensi rare earth alias tanah jarang. Survei ini akan dilakukan tahun depan.

Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman menyatakan komoditas satu ini cukup potensial ditemukan di Indonesia. Saleh menyatakan salah satu potensi penggunaan rare earth bisa digunakan untuk membuat chip.

"Itu baru kita akan survei tahun depan. Itu potensial sekali memang, kita bisa buat chip teknologi tinggi. Sampai sekarang belum ada datanya, karena itu baru akan disurvei tahun depan," kata Saleh, di Gedung DPR Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Halaman

(ara/ara)