Apa Sih 'Harta Karun' yang Dibahas Luhut dan Prabowo?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2020 17:30 WIB
Menhan Prabowo Subianto bertemu Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: Menhan Prabowo Subianto bertemu Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan/Achmad Dwi Afriyadi-detikFinance
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pernah diskusi bersama soal 'harta karun' Indonesia yang belum dimaksimalkan. Bahkan, 'harta karun' ini diyakini bisa dijadikan bahan baku senjata.

'Harta karun' yang dibahas Luhut dan Prabowo adalah rare earth alias mineral tanah jarang. Komoditas satu ini diyakini mudah ditemukan di Indonesia, maka dari itu Luhut dan Prabowo mau memaksimalkannya.

"Kemarin saya bicara dengan Menhan (Prabowo) bahas TIN (timah), TIN itu juga bisa kita ekstrak dari situ rare earth," ungkap Luhut dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI, di Gedung DPR RI, Senin (22/6/2020) lalu.

Dari catatan pemberitaan detikcom, pasir timah yang biasa diekspor ilegal dari Bangka Belitung (Babel) merupakan tempat untuk menemukan 'harta karun' ini. Di dalam pasir timah mengandung mineral tanah jarang.

Tanah jarang juga disebut memiliki harga yang tinggi, bahkan bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," ujar Direktur Utama PT Timah kala itu, Sukrisno saat berbincang dengan detikcom, Minggu (28/6/2015).

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite, yang dikembangkan PT Timah dengan membangun sebuah pabrik kecil pengolahan tanah jarang.

Melihat potensi besarnya, Badan Geologi Kementerian ESDM akan melakukan survei potensi rare earth alias tanah jarang. Survei ini akan dilakukan tahun depan.

"Itu baru kita akan survei tahun depan. Itu potensial sekali memang, kita bisa buat chip teknologi tinggi. Sampai sekarang belum ada datanya, karena itu baru akan disurvei tahun depan," kata Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman, di Gedung DPR Jakarta, Rabu (8/7/2020).



Simak Video "Luhut: Laju Penyebaran Covid-19 Menurun 7 Hari Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)