Dibayangi Triple Shock, Elnusa Tertolong Jasa EPC-OM dan Distribusi

Yudistira Imandiar - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2020 13:21 WIB
Pengeboran migas Elnusa
Foto: Dok. Elnusa
Jakarta -

Perusahaan energi dihadapkan pada tiga masalah utama atau triple shock di masa pandemi COVID-19, yakni penurunan aktivitas migas KKKS dampak penurunan harga minyak dunia, penurunan konsumsi BBM nasional, dan pelemahan kurs rupiah. Hal itu pula yang dihadapi PT Elnusa Tbk (Elnusa) sebagai perusahaan jasa energi nasional.

"Triple shock yang ada tengah menekan kinerja banyak perusahaan jasa migas, baik level nasional maupun global. Terutama karena penurunan harga minyak dan pandemi COVID-19, perusahaan jasa migas global telah merevisi target kinerjanya. Oleh karenanya adalah wajar bila kami juga melakukan penyesuaian target kinerja atau turun sebesar 25% dari target awal tahun," kata Direktur Utama Elnusa Ali Mundakir dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2020).

Ali melanjutkan masalah yang dihadapi membuat perusahaan yang hanya mengandalkan usaha di sektor jasa hulu migas mengalami kemerosotan, sehingga harus mengurangi jumlah karyawan. Namun ia menekankan Elnusa tidak hanya mengandalkan sektor jasa hulu migas. Ada tiga segmen bisnis Elnusa, yakni jasa hulu migas, jasa distribusi & logistik energi, serta jasa penunjang.

Ia memaparkan meskipun di sektor hulu terjadi penurunan aktivitas, jasa hulu migas berbasis non-aset (EPC-OM) tetap menunjukkan daya tahannya. Pertumbuhan pendapatan yang berasal dari lini jasa ini tetap positif. Begitu pula di segmen jasa distribusi dan logistik energi, kinerja pada lini bisnis transportasi BBM maupun pengelolaan depo tetap stabil.

"Kendati demikian, Elnusa yang memiliki pondasi kuat struktur bisnis dan dengan portofolio yang lengkap dari jasa hulu migas hingga jasa hilir migas sangat optimis akan menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini dikarenakan walau terdapat tekanan pada satu segmen, segmen lainnya akan menopang kinerja konsolidasi Elnusa", sebut Ali.

Elnusa pun perlu melakukan penyesuaian biaya investasi di tengah situasi saat ini, seperti yang dilakukan perusahaan energi global lainnya.

"Kami perlu mengkaji ulang dan menetapkan skala prioritas. Oleh karenanya kami melakukan revisi rencana belanja modal menjadi Rp 800 miliar dari rencana awal Rp 1,4 triliun," kata dia.

Elnusa akan mengembangkan portofolio bisnis yang lebih berimbang antara sektor jasa hulu migas dan jasa hilir migas. Investasi jasa hulu migas akan lebih diutamakan pada jasa yang dapat langsung bisa menghasilkan pendapatan usaha seperti jasa hulu migas berbasis non-aset (EPC-OM).

Pada sektor hilir migas, investasi akan difokuskan pada penguatan sarana serta fasilitas depo BBM dalam rangka menunjang Pertamina khususnya untuk penyaluran BBM dan Elpiji di luar Pulau Jawa.

"Dengan proporsi yang tepat, kami meyakini Elnusa akan lebih agile dan fleksibel ke depannya dalam menghadapi situasi krisis seperti saat ini," tutup Ali.

(prf/hns)