Tinjau RDMP Balikpapan, Kepala BKPM: Pertamina Jawab Tantangan Presiden

Yudistira Imandiar - detikFinance
Minggu, 30 Agu 2020 22:12 WIB
Pertamina
Foto: dok Pertamina
Jakarta -

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia meninjau proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Refinery Unit V Balikpapan dan Lawe-lawe di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bahlil mengecek perkembangan proyek RDMP Balikpapan yang ditargetkan selesai pada 2023 mendatang.

Dalam kunjungan hari Jumat (28/8/2020) tersebut, Bahlil didampingi oleh Direktur Utama PT Kilang Pertamina International (KPI) Ignatius Tallulembang, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) Narendra Widjajanto dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mardani Maming.

Bahlil mengapresiasi Pertamina yang tetap mengerjakan proyek RDMP RU V Balikpapan dan Lawe-Lawe di tengah situasi pandemi COVID-19 saat ini. Ia mengatakan, Pertamina berhasil menjawab tantangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun kilang sendiri.

"Salah satu yang membuat defisit neraca perdagangan adalah impor minyak dan gas. Presiden selalu bertanya mengapa kita tidak bisa bangun kilang sendiri? Tantangan ini sudah dijawab Pertamina dengan membangun beberapa kilang, salah satunya di Balikpapan. Ini hanya salah satu dari beberapa proyek besar Pertamina," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2020).

Ia menjelaskan, proyek RDMP RU V Balikpapan dan Lawe-lawe sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) merupakan bagian dari upaya besar yang dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

"Saya kira bangsa ini mampu dihargai oleh negara lain, jika kita semua mampu untuk berkolaborasi dan bekerja sama demi mewujudkan apa yang menjadi target. BKPM berkomitmen memfasilitasi dan mengawal proyek ini hingga tuntas," imbuhnya.

Direktur Utama PT KPI Ignatius Tallulembang mengatakan, proyek RDMP RU V Balikpapan dan Lawe-lawe adalah proyek terbesar Pertamina dengan nilai mencapai US$ 6,5 miliar. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas kilang, memperbaiki kualitas produk dan menurunkan harga pokok produksi BBM, yang mendorong peningkatan devisa dan penerimaan pajak.

"Produk yang dihasilkan nantinya akan memiliki standar Euro V. Artinya sudah sama dengan negara-negara maju. Ke depan Indonesia akan menjadi pemain terbesar dan terkuat di kawasan regional, bahkan mengalahkan Petronas Malaysia dan Korea National Oil Corporation (KNOC) Korea Selatan. Kita berfokus menciptakan kemandirian dan ketahanan energi, dan selanjutnya kedaulatan energi," kata Ignatius.

Pembangunan proyek kilang ini sudah mencapai 19 persen dan ditargetkan selesai tahun 2023 mendatang. Direktur Utama PT KPB Narendra Widjajanto menyebut semua rencana tetap berjalan sesuai jadwal. Di masa pandemi, proyek tersebut sekaligus mendorong Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam hal menyerap tenaga kerja.

"Saat ini tenaga kerja yang terserap adalah sekitar 4.500 orang. Dan tentunya di tahun mendatang akan menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja," ulas Narendra.

Sebagai informasi, kilang minyak Balikpapan terakhir kali diperbarui tahun 1995 dengan produksi mencapai 260 ribu barel/hari hingga saat ini. Setelah pembangunan selesai, kapasitas produksi akan menjadi 360 ribu barel/hari



Simak Video "Ini Hasil Pertemuan Ahok dan Erick Thohir"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/dna)